Simon : “Kalo Tidak Berani lebih Baik Jangan”

0 452

MALAKA, FLOBAMORA-SPOT.COM – untuk meraih sesuatu memang tidak instan. Butuh sebuah keteguhan hati dan Komitmen yang kuat. Lebih dari itu orang harus berani. Ya berani mengambil resiko.

“Berani memang salah satu kunci sukses dalam proses perjalanan karier saya. Harus berani itu kuncinya. Berani untuk menghadapi apa saja. “caci maki, fitnah, ancaman” harus berani mengambil keputusan dan harus berani mempertahankan kebenaran. Itu nomor satu. Harus berani, jika tidak berani lebih baik jangan”, ungkap Bupati Malaka Dr Simon Nahak, S.H., M.H., saat menyambut kedatangan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Perindo Provinsi NTT Jonathan Nubatonis bersama rombongan di Rumah Jabatan Malaka, Sabtu (5/06/2021)

Bupati Simon menegaskan, modalnya meraih jabatan Bupati saat ini hanya itu. “Saya tidak banyak uang untuk berpolitik, saya hanya punya keberanian dan kerendahan hati mengutarakan kerinduan saya untuk membangun Rai Malaka dan jalannya melalui pertarungan politik”, tegasnya.

Untuk bisa menjadi rendah hati, kata Bupati Simon, butuh keberanian. Seperti, rendah hati dari ketua DPW Perindo, ketika berjanji akan kirim 10 ekor sapi, tetapi bukannya mengirim malahan datang sendiri dan jumlah sapinya bertambah menjadi 13 ekor.

“Kenapa 13, karena 13 merupakan angka yang sangat istimewah karena saya lahir tanggal 13 Juni, maka itu saya sangat bersyukur. Di bulan Juni ini Tuhan sudah mengirim 13 ekor sapi, untuk memuliakan nama Tuhan,” ucap Bupati Simon yang disambut dengan tepuk tangan meriah.

Menurut Bupati Simon, dari partai Perindo dirinya memulai karier politiknya. Mengapa harus Perindo, itu adalah rancangan dari Tuhan. Karena jauh sebelumnya saya tidak berpikir untuk kembali ke Malaka, apalagi berlatar belakang sebagai seorang Dosen juga sebagai Lawyer. Namun dari Perindo saya akhirnya memutuskan untuk kembali ke Malaka.

“Dimana-mana orang bertanya, kenapa harus pulang Malaka. Saya hanya jawab “Baik Sonde Baik Tanah Malaka Lebih Baik,” kisah Bupati Simon kepada Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Perindo Provinsi NTT bersama rombongan.

Sementara itu dalam sambutannya, Jonathan Nubatonis mengatakan, kehadiran seluruh pengurus Partai Perindo se NTT di Kabupaten Malaka hari ini bernuansa budaya dalam memenuhi janji politik pada Pilkada Malaka 2020 lalu.

“Rakyat tidak boleh dibohongi. Kan sudah janji, maka harus dipenuhi. Sapi yang diserahkan hari ini, bernuansa budaya karena dari berbagai Kabupaten se- NTT,” tegas Nubatonis dalam mengakhiri sambutannya.

Dengan penuh syukur Bupati Malaka yang juga kader Perindo menyampaikan terima kasih kepada Ketua DPW Perindo bersama seluruh rombongan.

Selanjutnya, mari kita dalami sejarah Liurai Wehali-Malaka yang menjadi tonggak berdirinya Kabupaten Malaka yang kita cintai ini.

Sejarah Liurai Wehali-Malaka

Wehali adalah sebuah kerajaan tradisional di pantai selatan pulau Timor bagian tengah, sekarang menjadi Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pusat pemerintahannya dibangun Builaran.

Kerajaan ini sering disebutkan bersama dengan kerajaan tetangga, sebagai Wewiku-Wehali.

Dari Wewiku-Wehali inilah terbentuk Malaka menjadi Kabupaten sendiri tahun 2013 lalu. Wehali memegang posisi tertua di antara kerajaan-kerajaan kecil di Timor.

Menurut tradisi lisan, Wehali adalah tanah pertama yang muncul dari perairan yang pernah menutupi bumi. Konon tanah ini menjadi pusat atau asal-usul dunia dari perspektif orang Timor.

Catatan Antonio Pigafetta dari Ekspedisi Magellan, yang mengunjungi Timor pada tahun 1522, menegaskan peran penting kerajaan Wewiku-Wehali di Pulau Timor.

Pada abad ke-17, para penguasa dari Wehali digambarkan sebagai “seorang kaisar”, di mana semua raja di pulau ini mempraktekan upeti, sebagai kedaulatan mereka.

Tradisi Upeti untuk Liurai/Raja ini masih berlaku di jajaran bangsawan Manulea yang meliputi 5 kecamatan di dataran atas Kabupaten Malaka yaitu Sasitamean, Laenmanen, Malaka Timur, Io Kufeu dan Botin Leobele. Ini terjadi saat panen pertama di setiap suku.

Kerajaan ini memiliki hubungan baik dengan Kesultanan Makassar saat itu, tetapi kekuatan kerajaan ini diuji dengan invasi Portugis pada tahun 1642 dan 1665.

Wehali saat itu berada di dalam lingkup kekuasaan Portugis tetapi tampaknya memiliki kontak terbatas dengan kekuasaan colonial. (Sintus)

Sumber: NTTpost