Warga Nasipanaf Swadaya Bangun Jalan 300 Meter

0 162

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT.COM – Masyarakat Nasipanaf Kelurahan Penfui, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang akhirnya harus merogoh koceknya sendiri untuk membangun jalan sepanjang 300 Meter. Bagaimana tidak, jalan yang terletak persis di depan kantor Desa Baumata Barat itu selalu gagal untuk ditingkatkan statusnya mana kala ada Perhatian pemerintah.

Hasan Mansur salah satu Pengurus Forum Pembela Hak-Hak  Warga Nasipanaf mengatakan, ia mengkoordinir Perbaikan Jalan Nasipanaf yang makin hari makin parah kondisinya.

“Sesuai perhitungan kita butuh 1000 zak semen. Itu dari swadaya masyarakat. Proposal kita itu satu KK satu zak semen. Sertu tanah 60 ret. Kerikil 12 ret. Material yang dibutuhkan tersedia karena ada 2 pengusaha di sini. Bahan kita ambil dengan harga sedikit turun”, jelas Hasan Mansur kepada Media Jumat (17/7/20).

Lebih jauh ia menjelaskan, selama ini terkesan ada larangan dari Pihak Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) Kupang. “Pihak AURI tidak mencegah tapi perlu koordinasi dengan  AURI. Kita paham karena dia punya wilayah teritoral. Bukan milik tapi masuk dalam wilayah territorial sehingga perlu diawasi untuk memastikan wilayah kerjanya aman”, tegas Pensiunan Guru ini.

 

Hasan menjelaskan, persoalan batas wilayah ini sudah terjadi sejak Bupati  Kupang Ibrahim Agustinus Medah dan terus berlanjut hingga sekarang. “Saya audiens dengan bupati saat ini (Pak Korinus) supaya  pejerjaan ini jalan.

“Bupati janji kontraktor selesaikan tapi tidak. 2017 Kita datang ke Pak Jonas, saat itu Calon Walikota. Kita undang Sosialisasi. Langsung bahan turun,  Kabupaten Kupang datang cegah akhirnya tidak jadi”, terangnya.

Hasan mengaku ia terus berupaya untuk mencari solusi atas persoalan jalan Nasipanaf.

“Saya audiens dengan DPR provinsi komisi 3 dan 1. dua hari kemudian mereka  turun. Bersurat ke gubernur tapi tidak ada kejelasan. Masyarakat rasa pemerintah  tidak ada guna”, jelasnya.

 

Ia mengatakan, Sudah jenuh mendengar keluhan masyarakat. “Kita lalu mulai mengambil sikap. Saya kumpul tokoh-tokoh, kita sepakat. Nomenklatur kita swadaya”, tambahnya.

Setelah itu semua pihak merapatkan barisan pengerjaan jalan itu dimulai. “Kita awali perataan dulu Sabtu 11 JUli 2020 kemarin kita rabat. Setiap hari 100 orang turun  untuk bekerja. Dua moleng dipakai”, ujarnya.

Ia mengaku tidak ada yang datang melarang selama Pengerjaan jalan dilaksanakan. (Sintus).