Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Umat Katolik Kolhua, Hadiri Misa Penutupan Bulan Rosario, Meski Hujan

Umat Katolik St. Fransiskus Asisi Kolhua mengikuti Misa penutupan Bulan Rosario Sabtu (31/10/26). Misa dipimpin RD Longginus Bone didampingi RD Yoyakim dan RD Tony.

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Hujan yang turun beberapa menit sebelum perayaan Ekaristi tidak menyurutkan semangat umat Katolik mengikuti Misa Penutupan Bulan Rosario di Gereja Paroki Santo Fransiskus dari Asisi Kolhua, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (31/10/2026) sore.

Perayaan yang semula direncanakan berlangsung di depan Gua Maria Fatima, pelataran gereja paroki, terpaksa dipindahkan ke dalam gedung gereja akibat hujan yang mengguyur kawasan Perumahan BTN Kolhua.

Perubahan lokasi tersebut tidak mengurangi antusiasme umat. Lebih dari 500 umat dari puluhan Kelompok Umat Basis (KUB), baik di pusat paroki maupun Stasi Bello dan Noelbaki, mengikuti perayaan Ekaristi yang berlangsung khidmat.

Misa dipimpin Pastor Paroki Santo Fransiskus dari Asisi Kolhua, RD Longginus Bone, yang akrab disapa Romo Dus Bone, sebagai selebran utama. Ia didampingi dua pastor rekan, RD Toni Kobesi dan RD Yoskim Konis.

Perayaan semakin khusyuk dengan iringan koor Paroki Santo Fransiskus dari Asisi Kolhua, yang didukung Rio Bura sebagai organis dan Paustola sebagai dirigen.

Dalam homilinya, RD Toni Kobesi mengajak umat merefleksikan kehidupan iman di tengah kecenderungan manusia mengejar popularitas, penghormatan, dan pengakuan dari sesama.

Menurut dia, kehidupan manusia kerap diwarnai persaingan untuk menjadi yang terdepan, paling terkenal, dan dianggap lebih hebat daripada orang lain. Bahkan, dalam situasi tertentu, orang tidak lagi berani menyuarakan kebenaran karena takut kehilangan kedudukan atau pengakuan.

Padahal, kata RD Toni, tujuan utama kehidupan orang beriman bukanlah mengejar penghormatan manusia, melainkan memperjuangkan kehidupan kekal bersama Tuhan.

“Kita beriman dengan perjuangan supaya kelak mempunyai tempat dalam kehidupan yang abadi. Lantas, mengapa kita mesti berlomba untuk segala sesuatu yang sifatnya sementara?” ujarnya.

Mengacu pada pesan Injil tentang kerendahan hati, RD Toni mengingatkan bahwa orang yang meninggikan diri akan direndahkan, sedangkan mereka yang merendahkan diri akan ditinggikan.

Pesan tersebut menjadi bahan refleksi bagi umat agar tidak menjadikan kehidupan beriman sebagai ruang untuk mencari pujian dan pengakuan, tetapi sebagai kesempatan untuk bertumbuh dalam kerendahan hati, kejujuran, dan keberanian menyuarakan kebenaran.

Doa Harus Berlanjut. 

Bagi umat, penutupan Bulan Rosario bukan berarti berakhirnya kebiasaan berdoa yang selama Oktober dijalankan bersama di lingkungan dan KUB.

Goris Takene, salah seorang umat Stasi Santo Agustinus Bello Paroki Santo Fransiskus dari Asisi Kolhua, mengatakan, momentum penutupan Bulan Rosario justru menjadi kesempatan memperbarui komitmen pribadi untuk semakin dekat dengan Tuhan.

“Bagi saya, penutupan Bulan Rosario bukan berarti mengakhiri kebiasaan berdoa. Sebaliknya, ini menjadi momentum untuk memperbarui komitmen iman agar doa Rosario tidak hanya dilakukan selama bulan Oktober, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” kata Goris.

Ia mengatakan, keteladanan Bunda Maria perlu diwujudkan dalam kehidupan nyata, terutama melalui kesetiaan dalam berdoa, kerendahan hati, kasih kepada sesama, serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Dengan demikian, semangat Bulan Rosario tidak berhenti pada rangkaian doa selama Oktober, tetapi terus hidup dalam keluarga, lingkungan, KUB, dan kehidupan bermasyarakat.

Perayaan penutupan Bulan Rosario pun menjadi pengingat bahwa kekuatan iman tidak hanya diukur dari seberapa sering umat berdoa, tetapi juga dari sejauh mana doa tersebut diwujudkan dalam sikap dan tindakan sehari-hari. (Sts).

  • Bagikan