Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Adrianus Ceme: Pembangunan Kapela Santo Paulus Bello Tanggung Jawab Bersama Umat

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santo Fransiskus dari Asisi Kolhua, Adrianus Ceme, mengajak seluruh umat Kapela Santo Paulus Bello untuk menjaga persatuan dan bergandengan tangan menyelesaikan pembangunan kapela yang kini memasuki tahap pemasangan rangka atap atau kuda-kuda.

Ajakan tersebut disampaikan Adrianus dalam acara pemberkatan rangka atap Kapela Santo Paulus Bello, Sabtu (15/8/2026). Prosesi pemberkatan diawali dengan doa dan berkat oleh Imam RD Longginus Bone, kemudian dilanjutkan dengan ritual adat yang dipimpin Herman Takene.

Pemberkatan dan ritual adat berlangsung dalam suasana khidmat. Perpaduan antara doa pemberkatan dalam tradisi iman Katolik dan ritual adat menjadi bagian dari penghormatan terhadap nilai budaya lokal yang hidup berdampingan dengan kehidupan umat.

Menurut Adrianus, pembangunan Kapela Santo Paulus Bello bukan semata-mata pekerjaan fisik, tetapi menjadi tanggung jawab bersama seluruh umat.

Ia mengatakan Gereja Katolik terdiri atas umat dengan berbagai latar belakang dan karakter. Perbedaan tersebut, kata dia, seharusnya menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan menggereja, bukan alasan untuk terpecah.

“Kita ini satu komunitas dengan banyak wajah. Kita memang berbeda-beda, tetapi harus tetap satu hati dalam membangun kapela ini,” kata Adrianus.

Ia mengajak umat terus bergandengan tangan mendukung proses pembangunan, termasuk memberikan dukungan kepada para tukang yang didatangkan dari Surabaya maupun tukang lokal.

“Mari kita terus bergandengan tangan dan mendukung para tukang, baik yang datang dari Surabaya maupun tukang lokal, agar mereka dapat bekerja dengan sepenuh hati dan sebaik-baiknya sehingga pekerjaan pengatapan ini bisa segera selesai,” ujarnya.

Adrianus juga meminta umat memberikan kepercayaan kepada panitia pembangunan dan pihak-pihak yang telah diberi tanggung jawab untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.

Menurut dia, perbedaan pendapat dalam proses pembangunan merupakan sesuatu yang wajar. Namun, perbedaan itu harus disampaikan secara santun dan tidak boleh berkembang menjadi konflik yang menghambat pembangunan.

“Jangan sampai kita terpecah hanya karena berbeda pikiran, berbeda prinsip atau berbeda konsep. Kita percaya kepada Tuhan dan juga kepada orang-orang yang sudah kita percayakan untuk menjalankan pembangunan ini,” katanya.

Ia mengakui, pembangunan rumah ibadah tidak selalu berjalan tanpa persoalan. Perbedaan pandangan dan gesekan dapat muncul dalam prosesnya. Karena itu, setiap persoalan perlu diselesaikan dengan komunikasi yang baik dan sikap saling menghargai.

“Kalaupun ada pemikiran-pemikiran yang cemerlang, mari kita sampaikan dengan cara-cara yang lebih santun sehingga kita tidak saling menyikut satu sama lain. Di mana-mana pembangunan gereja atau kapela selalu ada problem dan gesekan. Itu hal biasa,” ujar Adrianus.

Namun, ia mengingatkan agar persoalan tersebut tidak sampai merusak persatuan umat dan menghambat penyelesaian pembangunan.

“Jangan sampai kita runtuh dan akhirnya gereja ini tidak jadi-jadi,” katanya.

Pemberkatan rangka atap menjadi salah satu penanda penting perjalanan pembangunan Kapela Santo Paulus Bello. Tahapan tersebut sekaligus memperlihatkan semangat gotong royong umat dalam mewujudkan rumah ibadah yang diharapkan dapat menunjang pelayanan pastoral dan kehidupan iman umat setempat.

Adrianus berharap kekompakan umat terus dipelihara hingga seluruh tahapan pembangunan selesai dan kapela dapat segera dimanfaatkan untuk kegiatan pelayanan.

“Yang paling penting, kita tetap kompak, tetap bergandengan tangan dan percaya kepada Tuhan. Saya kira itu yang harus kita jaga bersama,” pungkas Adrianus. (goe).

  • Bagikan