OELAMASI, FLOBAMORA-SPOT – Hidup damai bersama di suatu wilayah merupakan dambaan semua orang.
Karena dalam situasi damai apapun bisa dilakukan.
Namun apa yang dialami jemaat Adven hari ke-7 di area persawahan kelapa tinggi tidak demikian.
Mereka yang punya lahan seluas 35 Ha sejak 1969 diminta tinggal masyarakat sekitar, justru diusik.
Atau dengan kata lain tuan tanah diganggu oleh orang yang dikasih tanah.
“Masyarakat minta tinggal di lokasi ini. Kita mulai usahakan tanah hasil untuk gereja. Kita masuk tanam tidak masalah.
Mulai kita bangun lopo Mereka bakar. Lopo ini nilainya 100 juta. Baru kita bangun. Kita bawa dari Sabu sudah disetel memang lalu dibongkar kembali, muat dikapal bawa ke sini”, urai Ketua Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Indonesia Daerah Nusa Tenggara Pdt. Mesnick Ataupah, S.Th didampingi Pdt. Ahimas Natti, S.Th (Sek Daerah Nusra) dan PDT. Frans Nabuasa, S.Th (Kepala Pertanian Kelapa Tinggi) Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang Rabu (29/5/24).
Masih menurut dia, terkait peristiwa pembakaran pihaknya pernah melaporkan ke aparat penegak hukum namun tidak ada tindakan nyata.
“Kita lapor ke polisi. Tidak serius ditangani, mereka buat lagi”, jelas saudara dekat dr. Mese Ataupah ini.
Ia menyayangkan sikap jemaat GMIT, yang makin lama makin brutal tanpa akal sehat.
“Lama-lama mereka bukan mau hidup berdampingan tapi memusuhi kita. Gereja tidak bisa hidup dengan orang yang memusuhi kita”, tambah dia lagi.
Ia mengatakan, banyak fasilitas yang dirusak oleh mereka.
“Pernah saya dapat orang itu mengambil tanah. Saya tegur. Saya bilang jangan ambil karena kita sedang menanam. Malamnya Mesin air dirusak. Kabel listrik berapa banyak yang dipotong”, sesalnya.
“Mereka yang sudah tinggal di dalam minta pelepasan hak kepada kami. Kami belum kasih karena kami tidak ada niat menjual. Tanah masih hak kami semua. Tapi tidak mau bersahabat dengan kami. Kalo bilang kami tdak punya surat mereka harus buktikan”, terang dia.
Karena keadaan makin tak terkendali maka pihak Adven hari ke-7 meminta organisasi gerejawi GMIT menertibkan jemaatnya.
“Kita minta GMIT merelokasi gereja ini. Seharus gereja melindungi gereja. Ini malah sebaliknya. Kita juga minta Pemkab relokasi penduduk. Pindahkan mereka ke mana. Kami takut. Kami minta pemkab teruskan program bupati terdahulu. Ini nyawa pekerja gereja jadi taruhan. Security kami kemarin malam dilempar. Sampai orangtuanya tidak mau lepas untuk datang kerja”, jelas Ataupah.
Ditanya lahan seluas 35 Ha akan digunakan untuk apa saja, Pendeta Mesnick mengatakan, sesuai rencana akan dijadikan food estate, agro wisata dan lain-lain.
“Akan ada bumi perkemahan. Pemancingan. Peternakan sapi. Sawah. Pekerja bisa mencapai 1000 orang. Kita tidak ada untuk diri sendiri. Harus bawa berkat. Tapi mereka tidak mau damai”, urai dia.
“Baru kali ini ada konflik sejak 69. Sejak 10 tahun lalu mereka masuk, Pertengahan 2023 pembakaran lopo. Hingga saat ini gangguan terus ada”, kata dia.
Apakah pihak Adven sudah berbicara dengan pihak GMIT ?
“Sejauh ini belum ada duduk bersama antara Adven hari ke-7 dengan GMIT.
“Kita rencana ketemu Sinode. Mungkin dengan konfrensi pers ini kita bertemu”, ujar dia.
Lantas adakah sertifikat tanah sebagai bukti hak milik gereja ?
“Kami punya surat-surat. Sejak 1969. Kades belum tandatangan karena katanya tidak tau batas.
Dulu kami beli batas dengan alam”, jelas dia.
Ia mengatakan, saat ini sudah 43 KK yang mendiami tanah Adven.
“Ada 40 kk yang minta tinggal. Sekarang sudah 43 KK. Sejak 10 tahun terakhir. Kalo hidup damai masyarakat di sini bisa punya lapangan kerja.
Keamanan kita butuh”, pungkasnya. (Sintus).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




