Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Susana C. L. Pellu: “Sosiologi Fest Akan Jadi Kegiatan Tahunan”

Kontributor : RL Editor: Redaksi
Pemateri Dr. Petrus Ana Andung, S.Sos., M.Si,Pemantik diskusi Drs. Yos E. Jelahut, M. Si, Koordinator Prodi sosiologi Susana C. L. Pellu, S. Sos, M. Si, Wakil dekan I Fisip Undana Drs. Jacob Wadu, M.Si, bersama para dosen di lingkungan fisip Undana pada diskusi Fisip Corner Senin (14/11/22).

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT.COM – Program Studi Sosiologi Fisip Undana menggelar kegiatan bertajuk Fisip Corner dan Sosiologi Fest di Kampus Undana Senin (14/11/22). Koordinator Progam Studi Sosiologi Fisip Undana, Susana C. L. Pellu, S. Sos, M. Si dalam kegiatan Fisip Corner dan Sosiologi Fest yang dilaksanakan di pelataran Prodi sosiologi mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari program prodi dengan bentuk diskusi ilmiah Serta berbagai pertunjukan seni dan budaya.

 

“Ini sebenarnya bagian dari kegiatan “FISIP COORNER ” dimana di setiap prodi diberikan kesempatan untuk membuat diskusi ilmiah. Tapi karena pandemi Covid-19, kegiatan itu sempat dihentikan. Tapi kami masih punya mata anggaran untuk itu, jadi akhirnya kami tahun ini berdiskusi dengan teman-taman kita mau melanjutkan diskusi ilmiah ini. Prodi sosiologi sudah dua kali. Yang pertama kami diskusi tentang PSK, lalu hari ini kami mengambil tema masyarakat digital. Kebetulan kami juga punya mata kuliah masyarakat dan kebudayaan NTT. Disitu salah satu tugas mahasiswa adalah menampilkan budaya NTT jadi dalam diskusi kami menggabungkan kegiatan ini. Kami rencana ini menjadi kegiatan tahunan dengan etnis yang lebih banyak lagi, menggali kebudayaan NTT untuk kita tampilkan dalam kegiatan seperti ini”, terang Pellu.

 

Susana C. L. Pellu, S. Sos, M. Si menyadari, kegiatan ini masih banyak kekurangan karena itu perlu adanya dukungan dari berbagai pihak termasuk di dalamnya para alumni demi, kesuksesan kegiatan ini kedepannya. “Sementara itu pembentukan ikatan alumni prodi sosiologi sendiri masih dalam tahap persiapan dan konsolidasi, rencananya tahun depan akan segera di bentuk”, kata dia.

 

 

Menurut dia, Kegiatan “FISIP COORNER” ini dimulai sejak tahun 2018 berpusat di fakultas. “Kami menyadari ini masih banyak kekurangan karena ini persiapannya baru dua minggu dan kita berharap ke depan akan lebih bagus lagi dari ini. Kami juga membutuhkan banyak dukungan terutama dari fakultas, juga kami akan bergandeng dengan alumni untuk tahun depan siapa tau dari kelompok alumni ada yang mau menampilkan sesuatu yang menarik dari kebudayaan karena ini festival bersama”, jelasnya.

 

Lebih jauh ia menjelaskan, “terkadang kita lupa bahwa kita punya akar budaya yang kadang terlena dengan kemajuan teknologi akhirnya banyak generasi muda sekarang yang sudah banyak melupakan identitas budaya oleh karena itu, kegiatan ini salah satunya membangkitkan kembali rasa cinta generasi muda terhadap budaya”.

 

Dia berharap, tahun depan akan lebih banyak lagi kesenian daerah dari berbagai etnis yang belum ditampilkan hari ini akan digali lebih banyak lagi. “Kita bisa melihat masyarakat digital dari prespektif yang berbeda. Semoga dengan berbagai diskusi ilmiah kita bisa bukukan dan menghasilkan produk bagian prodi sosiologi”, terangnya.

 

Salah satu mimpi besar yang harus diwujudkan adalah pembentukan ikatan alumni. “Kita punya PR besar yang belum sempat kita kerjakan. Beberapa waktu yang lalu kita sempat ke beberapa daerah untuk reses study di Rote, Sabu dan Alor. Itu sudah membuat semacam wadah alumni tapi kita belum membentuk secara resmi dan itu perlu konsolidasi lagi dengan teman-teman di daerah supaya itu bisa terwujud”, tambahnya.

 

Dalam diskusi yang berlangsung hadir sebagai Pemateri Dr. Petrus Ana Andung, S.Sos., M.Si dosen prodi ilmu komunikasi dan Pemantik diskusi Drs. Yos E. Jelahut, M. Si dosen prodi sosiologi.

 

Dr. Petrus Ana Andung, S.Sos., M.Si menyampaikan bahwa diskusi ini adalah festival gagasan ilmiah dimana kampus  adalah bagian dari masyarakat digital. Diskusi seperti ini sebetulnya menjadi sebuah festival gagasan ilmiah dalam membangun sikap sebagai seorang akademisi, orang yang belajar di pendidikan tinggi.

 

“Setelah abad 21 kemudian kita tidak lagi sedang membicarakan tentang komunitas yang akan datang atau sebuah kelompok yang nanti akan kita hadapi tapi kita sudah join in di dalamnya kita sudah berada di dalamnya sehingga kalau kita bicara tentang apa sih masyarakat digital ya kita kita kita ini adalah bagian dari masyarakat digital ketika misalnya teknologi kemudian menjadi bagian integral dari kehidupan kita sebetulnya kita sudah mencerminkan sebagai sebuah konteks masyarakat digital Jadi bagaimana media atau teknologi itu hadir dalam kehidupan kita kemudian membentuk fase hidup kita, perilaku kita salah satu ciri dalam masyarakat digital”, ujarnya.

 

Sementara itu, di NTT penetrasi internet cukup tinggi, berdasarkan data terbaru tahun 2022. Sehingga NTT memberi kontribusi Pengguna internet di Indonesia cukup besar.

Dalam tahun 2020 penetrasi internet di Indonesia masih mencapai 73,7% kurang lebih. Dilaporkan dari asosiasi pengguna jasa internet Indonesia Tahun 2020 itu hanya 196 juta sekian, masyarakat yang terkoneksi dengan internet.

“Tapi tahun 2022 yang terbaru dari data yang saya dapatkan itu sudah mencapai 77,02%. Itu berarti ada pertambahan jadi sudah mencapai hampir lebih 40,02%. Jadi penetrasi internet itu dari 272 juta populasi penduduk Indonesia yang terkoneksi dengan internet itu 210 juta sekian. Dalam konteks NTT juga demikian. Data tahun 2020 penetrasi internetnya hanya mencapai 61% tapi di Tahun 2022 itu kita sudah masuk di angka 71,9%. Jadi perkembangan internet atau pertemuan internet di NTT juga tidak ketinggalan.  Secara nasional kita juga punya kontribusi yang sangat besar terhadap Bagaimana perkembangan internet di Indonesia”, pungkasnya.

  • Bagikan