KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Gereja Katolik mengajak umat untuk memaknai kekudusan bukan semata-mata sebagai sesuatu yang jauh dan hanya dapat dicapai oleh orang-orang tertentu, melainkan sebagai panggilan iman yang harus diwujudkan melalui sikap dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.
Pesan tersebut menjadi salah satu makna penting perayaan Hari Raya Semua Orang Kudus yang diperingati Gereja Katolik sedunia pada Minggu (1/11/2026).
Perayaan Ekaristi Hari Raya Semua Orang Kudus berlangsung di Kapela Santo Agustinus Bello, Paroki Santo Fransiskus dari Asisi Kolhua, Kota Kupang.
Misa dipimpin RD Yoakim Konis atau biasa disapa Romo Kim dengan melibatkan berbagai unsur pelayanan liturgi.
Suasana perayaan diawali dengan ritus pembukaan yang ditandai penggunaan dupa atau pendupaan. Dalam tradisi liturgi Gereja Katolik, dupa menjadi simbol penghormatan, kekhidmatan, dan doa umat yang dipersembahkan kepada Allah.
Penggunaan dupa dalam perayaan tersebut turut memperkaya suasana liturgi dan mengingatkan umat akan makna perayaan yang sedang berlangsung, yakni mengenang serta menghormati seluruh orang kudus yang telah menjalani hidup dalam iman kepada Allah.
Dalam perayaan itu, keterlibatan umat tampak melalui pelayanan para petugas liturgi. Anak-anak misdinar dari KUB Portagente, lektor Ermi Lim, dan organis Rio Bura, serta kelompok koor anak-anak SEKAMI Wilayah I dan II mengambil bagian dalam mendukung kelancaran perayaan Ekaristi.
Keterlibatan lebih dari 30 anak SEKAMI tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah pertama menjadi salah satu bagian menarik dalam perayaan tersebut. Mereka bertugas mengiringi nyanyian liturgi pada Misa kedua.
Kehadiran anak-anak itu tidak sekadar menjadi bagian dari pelayanan koor, tetapi juga memperlihatkan proses pembinaan iman sejak usia dini melalui keterlibatan langsung dalam kehidupan menggereja.
Bacaan Injil Hari Raya Semua Orang Kudus dari Matius 5:1-12a tentang Sabda Bahagia.
Dalam khotbah di bukit, Yesus menyampaikan sejumlah ajaran tentang orang-orang yang berbahagia, antara lain mereka yang miskin di hadapan Allah, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, suci hatinya, membawa damai, serta mengalami penganiayaan karena kebenaran.
Sabda Bahagia tersebut menjadi gambaran bahwa kekudusan tidak diukur dari kedudukan, kekayaan, popularitas, ataupun pengakuan manusia.
Kekudusan justru bertumbuh melalui kerendahan hati, kemurahan hati, kesetiaan, pengampunan, perjuangan menegakkan kebenaran, dan kepedulian terhadap sesama. Demikian pesan Romo Kim dalam homilinya.
Karena itu, Hari Raya Semua Orang Kudus menjadi kesempatan bagi umat untuk tidak hanya mengenang keteladanan para kudus, tetapi juga merefleksikan perjalanan iman masing-masing. Setiap orang dipanggil untuk menghadirkan nilai-nilai Injil dalam keluarga, lingkungan masyarakat, tempat kerja, dan kehidupan menggereja.
Ika Hurin salah satu pembina Sekami mengatakan, Keterlibatan anak-anak SEKAMI dalam koor Misa juga menghadirkan refleksi tersendiri tentang pentingnya pembinaan iman anak dan remaja dalam Gereja Katolik.
Anak-anak yang tergabung dalam Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (SEKAMI) perlu mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam kehidupan liturgi. Namun, keterlibatan tersebut tidak semestinya hanya dimaknai sebagai kesempatan tampil atau menjalankan tugas pelayanan.
Lebih dari itu, anak-anak perlu dibimbing agar memahami Ekaristi sebagai pusat kehidupan iman umat Katolik. Mereka perlu memperoleh kesempatan mengikuti Misa secara utuh, mendengarkan Sabda Tuhan, memahami homili, berdoa, serta menerima Komuni Kudus sesuai ketentuan Gereja.
“anak-anak tidak hanya belajar menyanyi dan melayani di depan altar, tetapi juga bertumbuh sebagai umat yang memahami, menghayati, dan mencintai Ekaristi,” ucap Ika ibu dua anak itu.
dia menambahkan, pelayanan koor merupakan salah satu bentuk partisipasi dalam liturgi. Akan tetapi, keikutsertaan dalam perayaan Ekaristi tidak boleh berhenti pada tugas tersebut. Anak-anak juga perlu diberi ruang untuk mengikuti seluruh rangkaian perayaan sebagai bagian dari umat yang berdoa dan mendengarkan Sabda Tuhan.
Melalui perayaan Hari Raya Semua Orang Kudus, Gereja kembali mengingatkan bahwa kekudusan merupakan perjalanan iman yang berlangsung sepanjang kehidupan. Keteladanan para kudus diharapkan tidak berhenti pada penghormatan dalam perayaan liturgi, tetapi diwujudkan dalam tindakan sederhana: mengasihi, mengampuni, berbagi, berkata benar, dan melayani sesama.
Sebab, menjadi kudus bukan sekadar tentang bagaimana seseorang dikenang setelah meninggal dunia, melainkan bagaimana ia menghadirkan kasih Allah selama masih hidup.
(goe).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




