Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Umat Bello Ikuti Rekoleksi dan Ibadat Tobat Jelang Paskah

Umat Bello, saat mengikuti rekoleksi Jepang Tri hari suci.

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Umat Stasi Santo Agustinus Bello, Paroki Santo Fransiskus Asisi Kolhua, mengikuti rekoleksi dan ibadat tobat pada Senin sore (30/3/2026) sebagai bagian dari persiapan rohani menyambut Hari Raya Paskah.

Ibadat tobat yang berlangsung khidmat ini dipimpin oleh Frater Fr. Mex.dari Paroki St Fransiskus Dari Asisi Kolhua.

Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi umat untuk membarui relasi dengan Tuhan melalui pertobatan, refleksi diri, dan pengakuan dosa dalam Sakramen Rekonsiliasi.

Dalam tradisi Gereja Katolik, masa Prapaskah merupakan waktu istimewa untuk berdamai dengan Allah dan sesama, membersihkan diri dari dosa, serta memperbarui janji baptis.

Hal ini tercermin dalam pelaksanaan ibadat tobat yang diikuti umat dengan penuh kesadaran dan kekhusyukan.

Salah satu katekis Stasi Bello, Agustinus Koten, menjelaskan bahwa ibadat tobat yang dilaksanakan secara komunal menegaskan dimensi sosial dari dosa.

“Dosa tidak hanya berdampak secara pribadi, tetapi juga melukai seluruh tubuh Gereja. Karena itu, pertobatan menjadi langkah bersama untuk kembali kepada Allah,” ujarnya.

Usai rekoleksi, kegiatan dilanjutkan dengan pengakuan dosa secara pribadi. Panitia menghadirkan empat orang imam untuk melayani Sakramen Rekonsiliasi, sehingga umat dapat mengaku dosa dan menerima absolusi secara lebih tertib dan khidmat.

Mengacu pada Katekismus Gereja Katolik nomor 1457, umat diwajibkan untuk mengaku dosa sekurang-kurangnya satu kali dalam setahun.

Menjelang Paskah dinilai sebagai waktu yang tepat untuk melaksanakan kewajiban tersebut sekaligus mempersiapkan diri menyambut Ekaristi dengan hati yang bersih.

Dalam homilinya, Frater Mex mengajak umat untuk meneladani sikap Maria dalam Injil Yohanes 12:1–11, yang datang kepada Yesus dengan kasih dan ketulusan hati, serta menghindari sikap Yudas yang mengetahui kebaikan tetapi tidak melakukannya.

“Yang Tuhan minta bukan kesempurnaan, melainkan kejujuran hati. Sebab sebelum kita datang kepada-Nya, Ia sudah lebih dahulu menunggu dan siap mengampuni,” katanya.

Ia menegaskan, keberanian untuk mengakui dosa merupakan langkah awal menuju pembaruan hidup.

Melalui ibadat tobat ini, umat diajak untuk masuk dalam keheningan, melakukan pemeriksaan batin, dan dengan rendah hati kembali kepada Tuhan. Hal ini agar layak menyambut kebangkitan Kristus dengan hati yang diperbarui dan iman yang semakin teguh. (goe).

  • Bagikan