
KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Kehangatan persaudaraan dan rasa syukur menyatu dalam sebuah perjamuan sederhana di Biara Suster OHFS Bello, Kamis malam (19/2/2026).
Umat Bello, para imam, dan komunitas suster berkumpul merayakan kaul pertama Sr Ida Baitanu—sebuah langkah panggilan hidup bakti yang dirayakan bukan dengan kemewahan, melainkan kebersamaan yang tulus.
Sekitar pukul 19.00 WITA, tidak lebih dari dua puluh umat hadir bersama Ketua Stasi, Pastor Paroki dari Paroki Santo Fransiskus dari Asisi Kolhua. Juga Frater David, serta Romo Arif dari Paroki Oepoli. Mereka datang bukan sekadar memenuhi undangan makan malam, tetapi untuk mengambil bagian dalam sukacita panggilan religius yang baru bertumbuh.
Acara dibuka dengan doa singkat sebagai ungkapan syukur atas kaul pertama yang diikrarkan dua hari sebelumnya.
Dalam suasana hening, setiap doa terasa personal sekaligus komunal—mewakili harapan, dukungan, dan cinta dari komunitas kecil yang setia berjalan bersama.
Pimpinan OHFS Indonesia, Sr Mercy, menegaskan makna kebersamaan malam itu sebagai wujud syukur dan penghargaan atas perjalanan panggilan hidup bakti.
“Kami bersyukur atas kaul pertama saudari kami Sr Ida Baitanu, sehingga malam ini kami mengundang beberapa orang tua dan umat untuk makan malam bersama di biara,” ungkapnya.
“Ini bukan hanya perayaan pribadi, tetapi perayaan seluruh komunitas yang mendukung panggilan hidup bakti”, tambah dia.
Suasana segera mencair dalam percakapan hangat dan tawa yang memenuhi ruang makan biara. Hidangan khas Indonesia berpadu dengan menu India yang disiapkan komunitas suster.
Aroma nasi biryani yang kaya rempah berpadu dengan sajian salad India dan aneka minuman, menghadirkan pengalaman lintas budaya dalam satu meja persaudaraan.
Lebih dari sekadar santap malam, pertemuan itu menjadi ruang perjumpaan yang memulihkan, tempat di mana umat, imam, dan biarawati berbagi cerita hidup, harapan, serta semangat pelayanan. Kesederhanaan acara justru mempertegas nilai yang dihidupi: kebersamaan, syukur, dan panggilan untuk melayani dengan hati.
Dalam terang spiritualitas Santo Fransiskus dari Asisi, kehidupan religius dipahami sebagai jalan persaudaraan universal, hidup sederhana, dekat dengan sesama, dan terbuka bagi siapa saja.
Malam di Bello itu menjadi cerminan nyata nilai tersebut: kecil dalam bentuk, namun besar dalam makna.
Perjamuan pun berakhir tanpa seremoni panjang. Namun bagi mereka yang hadir, malam itu meninggalkan kesan mendalam, bahwa panggilan hidup bakti tidak hanya dirayakan dalam ritus, tetapi juga dalam kehangatan meja makan dan persaudaraan yang hidup. (goe).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




