Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Dukung Pembentukan Karakter Anak, RD Longginus Izinkan Lomba Permainan Rakyat di Halaman Gereja Fransiskus Asisi

Seorang siswa, sedang bermain siki doka. Permainan ini hampir dilupakan namun dimunculkan lagi pada ajang lomba permainan rakyat yang digelar KPOTI Kota Kupang.

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Upaya menghidupkan kembali permainan rakyat dan olahraga tradisional mendapat dukungan penuh dari Paroki Santo Fransiskus dari Asisi Kolhua.

Pastor Paroki, Romo Longginus Bone, Pr, menyediakan aula dan pelataran gereja sebagai lokasi pembukaan hingga pelaksanaan lomba permainan rakyat yang melibatkan ratusan siswa SD dan SMP se-Kota Kupang, Jumat (5/12/2025).

Pastor yang akrab disapa Romo Dus itu menegaskan, anak merupakan aset bangsa, negara, dan Gereja. Menurutnya, pembentukan karakter perlu dilakukan sejak dini, termasuk melalui aktivitas permainan tim yang melatih kerja sama dan sportivitas.

“Anak-anak zaman sekarang sudah sangat dipengaruhi teknologi. Mereka lebih banyak bermain sendiri lewat gim daring. Karakter individu anak tidak terasah dengan baik jika interaksi sosialnya berkurang. Permainan seperti sikidoka, gasing, dan tali merdeka mampu membangun kerja sama, keberanian, dan kejujuran,” ujar Romo Dus.

Lomba permainan rakyat dan olahraga tradisional ini digagas Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) Kota Kupang. Kegiatan ini menjadi ruang belajar sekaligus hiburan edukatif bagi anak-anak dari sejumlah sekolah dan komunitas.

Saat membuka kegiatan tersebut, Sekretaris Daerah Kota Kupang, Jefri Pelt, menyampaikan apresiasi atas inisiatif KPOTI.

Ia menilai, kegiatan ini relevan dengan kebutuhan penguatan karakter generasi muda di tengah derasnya arus digitalisasi.

“Saya menyambut baik kegiatan yang digagas KPOTI Kota Kupang. Ke depan, kegiatan serupa perlu dikemas lebih baik lagi agar dapat melibatkan lebih banyak peserta,” kata Jefri Pelt.

Hal senada disampaikan Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Ernest Ludji, S. STP, M. Si.

Ia berharap KPOTI dapat membangun kerja sama lebih kuat dengan sekolah, komunitas, dan pemerintah, sehingga penyelenggaraan lomba permainan rakyat berikutnya berjalan semakin baik dan menjangkau lebih banyak anak.

Melalui dukungan pihak gereja, pemerintah, dan komunitas, kegiatan permainan tradisional ini diharapkan menjadi agenda berkelanjutan untuk melestarikan budaya dan memperkuat karakter generasi muda. (goe).

  • Bagikan