Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Maria Fallo, Mahasiswi Kolhua yang Mengayuh Mimpi di Atas Pelana Ojek Online

Mahasiswa di Kipang yang nyambi sebagai tukang ojek online Maria Fallo.

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Di sebuah sudut pangkalan ojek online di Kelurahan Kolhua, Rabu (3/12/2025), seorang mahasiswi tampak menunduk memeriksa ponselnya sambil menanti pesanan masuk.

Jaket kuning yang ia kenakan mulai pudar, tetapi wajahnya tetap berseri.

Dialah Maria Aprista Fallo (21), mahasiswa semester III Akademi Pariwisata Kupang yang memilih bekerja sebagai pengemudi ojek online sepulang kuliah demi membantu perekonomian keluarganya.

Ketika banyak mahasiswa menghabiskan waktu luang dengan bersantai di kafe atau pulang beristirahat, Maria memilih jalur lain.

Sore hingga malam hari, ia mengarungi jalanan Kota Kupang, mengantar penumpang dan pesanan makanan dengan motornya.

Putri sulung dari tiga bersaudara itu sadar, bahwa mimpinya harus dikayuh sendiri, setidaknya untuk saat ini.

Ditemui di pangkalan dekat rumahnya di RT 23/RW 07 Kolhua, Maria tampak percaya diri.
“Saya tidak malu. Saya kerja untuk bantu orang tua,” ujarnya, suaranya pelan namun tegas.

Lahir pada 14 Maret 2004, Maria menempuh pendidikan di Akademi Pariwisata Kupang.
Ia memilih kampus itu bukan hanya karena biaya kuliahnya terjangkau, tetapi juga karena rasa cintanya pada dunia bahasa dan pelayanan tamu.

“Saya suka pariwisata. Belajar budaya, bahasa Inggris, dan bahasa Korea itu menyenangkan,” katanya sambil tersenyum kecil.
Keputusan bekerja sebagai ojek online ia ambil sejak awal kuliah.

Ayahnya, Jhonianus R. Fallo, bekerja sebagai tukang tambal ban, sementara ibunya, Susana Suni, adalah ibu rumah tangga. Penghasilan keluarga sederhana itu membuat Maria merasa perlu ambil bagian.
“Orang bilang uang bukan segalanya, tapi uang penting untuk bertahan. Karena itu saya kerja, dan harus jujur,” katanya menegaskan.

Dalam sehari, Maria bisa memperoleh pendapatan Rp50.000 hingga Rp60.000 bila bekerja sepulang kuliah. Pada hari Sabtu, saat tidak ada kegiatan akademik, ia bekerja sejak pagi hingga malam dengan pendapatan antara Rp60.000—Rp100.000.

Uang itu sebagian ia sisihkan untuk membantu orang tua, membayar tugas kuliah, serta kebutuhan kedua adiknya.
Meski waktunya padat, Maria tidak merasa keberatan. Baginya, ritme harian antara kampus dan jalanan justru membentuk disiplin serta ketangguhan diri. “Saya cuma mau setelah lulus bisa kerja tetap di bidang pariwisata dan bantu keluarga lebih baik lagi,” katanya.

Di balik kesederhanaannya, Maria memelihara tekad besar: membuktikan bahwa mimpi bisa diraih siapa saja, tak peduli dari mana mereka mulai.

Dari atas motornya yang melaju di jalan-jalan panas Kota Kupang, ia tak hanya mengejar orderan, tetapi mengejar masa depan yang ingin ia wujudkan sendiri. (goe).

  • Bagikan