Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Kakak Fat, Kenangan yang Tak Pernah Usai

Alm. Kaka Fat saat masih hidup.

LEMBATA, FLOBAMORA-SPOT — Tahun 1991 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidup saya. Seusai menamatkan pendidikan SMP, saya meninggalkan Kota Karang menuju Lewoleba, Pulau Lembata. Saat itu Lembata masih berstatus wilayah Pembantu Bupati di bawah Kabupaten Flores Timur.

Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan tempat. Saya dibawa oleh Bapak Petrus Gute Betekeneng dan Ibu Elisabet Letek untuk tinggal bersama keluarga mereka. Sejak hari pertama, saya tidak diperlakukan sebagai orang lain. Saya diterima sebagai bagian dari keluarga besar Betekeneng, keluarga yang mengajarkan arti kasih melalui tindakan-tindakan sederhana.

Hari-hari saya lalui bersama keluarga itu, baik di Lewoleba maupun di Ile Ape. Di tengah kesederhanaan kehidupan mereka, saya merasakan kehangatan sebuah rumah yang penuh perhatian. Dari sembilan anak Bapak Petrus Gute Betekeneng dan Ibu Elisabet Letek, sebagian besar ketika itu telah merantau untuk bekerja maupun melanjutkan pendidikan di luar Nusa Tenggara Timur.

Di antara mereka, Maria Fatima Betekeneng, yang akrab kami panggil Kakak Fat, menjadi sosok yang paling dekat dengan saya.

Kakak Fat bukan pribadi yang banyak berbicara. Namun, kasih sayangnya hadir melalui hal-hal kecil yang sering kali luput dari perhatian. Ia memastikan saya tidak terlambat ke sekolah dan tidak terlambat makan, menyiapkan pakaian, memperhatikan kebutuhan sekolah, dan selalu memastikan saya dapat belajar dengan tenang. Semua itu dilakukan dengan tulus, tanpa pernah mengharapkan balasan.

Perhatian yang tampak sederhana itulah yang justru membentuk kenangan paling dalam.
Di usia yang masih belia, saya belajar bahwa keluarga tidak selalu ditentukan oleh hubungan darah, melainkan oleh kasih yang diwujudkan dalam kepedulian sehari-hari.

Berkat cinta dan pengorbanan keluarga Betekeneng, terutama Kakak Fat, saya dapat menyelesaikan pendidikan SMA di Lewoleba. Mereka memberi saya kesempatan untuk menata masa depan, sesuatu yang mungkin tidak akan pernah saya lupakan sepanjang hidup.
Kini, ketika Maria Fatima Betekeneng telah berpulang dengan damai pada Rabu, 15 Juli 2026, kenangan itu kembali hadir satu per satu. Kepergiannya meninggalkan duka yang mendalam, tetapi juga menghadirkan rasa syukur karena Tuhan pernah mempertemukan saya dengan pribadi yang begitu tulus dalam mengasihi sesama.

Bagi saya, Fat bukan hanya seorang kakak. Ia adalah bagian dari perjalanan hidup yang ikut membentuk siapa diri saya hari ini. Keteladanannya mengajarkan bahwa kasih tidak selalu diucapkan dengan kata-kata, melainkan dibuktikan melalui perhatian, pengorbanan, dan kesediaan melayani orang lain dengan hati yang tulus.

Selamat jalan, Kakak Fat. Terima kasih atas setiap kasih, perhatian, dan pengorbanan yang telah engkau berikan. Namamu akan selalu hidup dalam doa, dalam kenangan, dan dalam rasa syukur yang tak pernah berakhir. (Goris Takene).

  • Bagikan