KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Tak semua rumah yang utuh terasa hangat. Banyak pasangan yang memilih tetap bersama, bukan karena cinta yang masih menyala, tetapi karena ada anak-anak yang perlu dijaga. Mereka tinggal satu atap, tidur satu ranjang, namun hatinya berjarak sejauh diam yang panjang.
“Bertahan bukan karena bahagia, tapi karena anak-anak. Itu bukan cinta, itu luka yang dipaksa tetap hidup.
Tulis sebuah akun dalam media sosial merupakan unggahan reflektif yang viral di media sosial pekan ini.
Unggahan tersebut menggambarkan fenomena yang diam diam dialami banyak pasangan: mempertahankan rumah tangga meski rasa sudah tak lagi ada. Duduk satu meja tanpa bicara, tertawa palsu, dan menyembunyikan luka demi mempertahankan keutuhan keluarga di mata anak-anak.
Anak Butuh Cinta, Bukan Sekadar Dua Orang Tua.
Psikolog SD Santa Maria Assumpta Kota Kupang NTT Sr Fransiska Takene, CIJ. S.Psi. menjelaskan, “Anak-anak memang butuh sosok ayah dan ibu. Tapi yang lebih mereka butuhkan adalah suasana rumah yang sehat secara emosional. Dua orang tua yang saling melukai justru bisa meninggalkan trauma jangka panjang bagi anak.”
Menurut biarawati dari Komunitas suster-suster CIJ itu, bertahan dalam hubungan yang toksik sering kali dilakukan atas nama pengorbanan. Namun, jika pengorbanan itu justru membuat kesehatan mental orang tua memburuk, maka anak pun akan terdampak.
“Keputusan untuk bertahan atau berpisah bukan soal ego, tapi tentang keberanian untuk memilih mana yang paling sehat untuk semua pihak,” tambahnya.
Tak Ada Pilihan yang Sepenuhnya Salah.
Salah satu pasangan, sebut saja Fari (35), warga Kolhua Kota kupang, mengaku pernah berada dalam situasi serupa.
“Saya bertahan delapan tahun hanya demi anak. Tapi akhirnya saya sadar, anak saya lebih butuh saya yang waras dan bahagia daripada ibu yang selalu menangis dalam diam,” ujarnya.
Kini, Fari memilih hidup terpisah dari suaminya, namun tetap menjaga hubungan baik demi anak. “Pergi bukan berarti menyerah. Itu pilihan untuk bertahan dengan cara yang lain,” katanya.
Setiap orang berhak memilih jalan hidupnya sendiri. Tidak semua kebersamaan berarti kebahagiaan, dan tidak semua perpisahan berarti kehancuran. Cinta sejati tumbuh di dalam kejujuran dan ketenangan, bukan dalam keterpaksaan yang dibungkus diam. (Goe).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




