KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — “Tri Hari Suci, dimulai pada Kamis Putih. Perayaan Ekaristi pada Kamis Putih meliputi tiga peristiwa penting yakni gereja mengenangkan Yesus bersama Murid-muridnya, Yesus mengadakan Sakramen Ekaristi dan Imamat dan ketiga, mengenangkan Yesus memerintahkan kita untuk saling mengasihi, saling basuh kaki dan saling melayani. Inilah 3 misteri Kamis Putih yang kita rayakan malam ini”.
Pastor Sebast Wadjang, SVD menyampaikan hal itu dalam khotbahnya saat memimpin Misa Kamis Putih di paroki Santa Familia Kamis (17/4/25).
Ia menekankan pentingnya saling basuh kaki, saling melayani dan mengasihi satu sama lain.
Pastor Sebast minta suami istri saling membasuh kaki sepulang Misa Kamis Putih.
“Karena itu pulang dari gereja sebentar bapa-bapa basuhlah kaki istrimu, Istri-istri basuhlah kaki suamimu. Mulai dari para rasul (mereka yang mewakili umat untuk dibasuh kakinya oleh Imam-red). Jadi setelah pulang para rasul basuh kaki istri atau suami. anak-anak basuhlah kaki orang tuamu, karena kaki itu yang membawa orangtua ke sana kemari mencari rejeki untuk keluarga”, harap dia.
“Yesus mau agar kaki tidak menghantar kita ke tempat-tempat dosa, ke tempat perjudian, perlaruan (tempat mabuk-red), ke tempat-tempat teku dan lain sebagainya. Harus dipakai ke tempat-tempat yang baik. Ke rumah ibadah, ke tetangga untuk membantu orang. Itulah Yesus meminta pada kita, hari ini supaya saling membasuh kaki”, tegas Pastor Sebast.
Usai perayaan Misa, diadakan perarakan Sakramen Mahakudus keliling dalam gereja, salah satu bagian penting dalam tradisi Kamis Putih.
Tentang Sakramen Mahakudus berikut ini penjelasan Tokoh muda Katolik Maria Margaritha Safirah.
“INILAH PIALA DARAH-KU”
MISTERI PERJANJIAN BARU DALAM TERANG EKARISTI
“Inilah piala darah-Ku, darah Perjanjian Baru.” (Mat 26:28)
Kalimat ini, yang diucapkan oleh Kristus pada malam Perjamuan Terakhir, bukan sekadar kata-kata simbolis. Ia adalah inti dari misteri keselamatan, pusat liturgi Gereja, dan nadi kehidupan rohani umat Kristiani. Dalam satu pernyataan ini, terkandung kegenapan Perjanjian Lama, pembentukan Gereja, janji keselamatan, dan bayangan perjamuan kekal di surga. Kita akan menelusuri makna dalamnya melalui empat dimensi: liturgis, eskatologis, eklesiologis, dan soteriologis.
1. Dimensi Liturgis: Hadir Kini dan Di Sini
Perjamuan Terakhir adalah awal dari liturgi baru. Kristus tidak hanya memberikan ajaran, tetapi mempersembahkan diri sebagai kurban: roti sebagai Tubuh-Nya, anggur sebagai Darah-Nya. Dengan berkata, “Lakukanlah ini sebagai kenangan akan Aku,” Ia tidak hanya menyuruh kita untuk mengenang, tetapi mengundang kita untuk menghadirkan kembali. Dalam setiap Misa Kudus, Gereja tidak mengulangi, melainkan menghadirkan secara sakramental kurban satu kali di Kalvari.
Liturgi Ekaristi adalah satu dengan salib Kristus, karena yang sama dikurbankan dan yang sama pula yang menyambutnya: Kristus yang mempersembahkan, Kristus yang dikurbankan, Kristus yang diterima. Inilah misteri iman yang tak bisa dijangkau oleh logika manusia, tetapi diterima dalam ketaatan iman.
2. Dimensi Eskatologis: Pesta Abadi yang Akan Datang
Piala Perjanjian Baru bukan hanya mengacu ke salib, tetapi juga ke perjamuan surgawi. Kitab Wahyu menggambarkan sukacita para kudus dalam Perjamuan Anak Domba (Why 19:9). Maka, setiap kali kita mengambil bagian dalam Ekaristi, kita mencicipi lebih dahulu pesta kekal itu.
Dalam Ekaristi, Gereja peziarah menatap tujuan akhirnya. Liturgi bumi menyatu dengan liturgi surga. Para kudus, para malaikat, dan seluruh umat beriman di dunia ini menyatu dalam pujian dan penyembahan kepada Anak Domba yang disembelih.
3. Dimensi Eklesiologis: Darah yang Membentuk Tubuh
Darah Perjanjian Baru bukan hanya menyelamatkan individu, tetapi membentuk satu umat. Dalam Perjamuan Terakhir, para rasul dihimpun bukan sebagai murid-murid pribadi, tetapi sebagai komunitas, cikal bakal Gereja. Mereka yang menerima tubuh dan darah Kristus menjadi satu dengan-Nya dan satu sama lain (1Kor 10:17).
Gereja bukan lembaga manusia yang dibentuk oleh peraturan, tetapi Tubuh Mistik Kristus yang dibentuk oleh Darah-Nya. Maka, Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan Gereja—tanpa Ekaristi, Gereja kehilangan jati dirinya.
4. Dimensi Soteriologis: Darah yang Menebus
Perjanjian Lama ditandai dengan darah domba pascah, yang menyelamatkan bangsa Israel dari maut di Mesir. Namun, semua itu hanya bayangan dari yang sempurna: Kristus, Anak Domba Allah, yang darah-Nya dicurahkan “demi pengampunan dosa” (Mat 26:28). Ia bukan hanya kurban, tetapi juga Imam dan Altar.
Melalui Darah ini, umat manusia dibebaskan dari kuasa dosa dan maut. Dalam setiap penerimaan Komuni Kudus, kita dipersatukan dengan sumber keselamatan itu sendiri. Maka, keselamatan bukan sesuatu yang abstrak atau jauh, tetapi diambil, dilihat, dan diterima dalam rupa roti dan anggur.
Kesimpulan: Perjanjian yang Hidup dalam Ekaristi
“Inilah piala darah-Ku” bukan hanya sebuah kutipan, melainkan janji dan realitas yang hidup. Dalam Ekaristi, umat Katolik menemukan Kristus yang benar-benar hadir—mengajar, menyelamatkan, dan menyatukan. Inilah sebabnya Ekaristi adalah puncak iman Katolik: karena di sanalah Perjanjian Lama digenapi, dan Perjanjian Baru dilaksanakan setiap hari sampai Kristus datang kembali.
Marilah kita menyembah Dia yang hadir dalam piala ini—Tuhan yang sama, dahulu, sekarang, dan selamanya. (Irah/sintus).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




