KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — “Salah satu upaya penyesuaian terhadap perubahan iklim untuk mengurangi dampaknya dengan melakukan penanaman kembali.
Perubahan iklim telah menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem.
Salah satu dampak perubahan iklim pada bidang pertanian yakni isu ketahanan pangan, sehingga perlu ada mitigasi dan adaptasi dengan melakukan kolaborasi dengan menanam pohon”.
Demikian dikatakan, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Kupang, Rahmattulloh Adji, saat melakukan penanaman 200 anakan pohon di sumber mata air Kelurahan Bello Kecamatan Maulafa Kota Kupang Kamis, 13/3-2025.
Menurut dia, kegiatan tanam pohon hari ini sebagai upaya Adaptasi dan Mitigasi terhadap perubahan Iklim tidak hanya di Kota Kupang atau NTT tetapi di seluruh Indonesia.
“Ini sebagai proses atau upaya penyesuaian terhadap perubahan iklim untuk mengurangi dampaknya karena isu yang paling kuat terkait dampak iklim ini yakni ketahanan pangan,”ucap Adji.
Ia juga menyatakan bangga dan senang dengan sambutan serta antusiasme masyarakat dengan adanya gerakan tanam pohon tersebut, sebagai sinyal dukungan dari seluruh masyarakat khususnya masyarakat Petaninyang ada di Kelurahan Bello.
Sementara itu Direktur Centrum Inisiatif Rakyat Mandiri (Cirma) NTT John Ladjar mengatakan, dengan adanya perubahan ini, yang paling banyak berdampak adalah para petani kecil karena dampak perubahan Iklim itu menyebabkan terbatasnya curah hujan sehingga ketersedian air tanah makin berkurang dan hal ini menyulitkan para petani kecil dalam mengolah pertanian.
Untuk mengatasi hal ini pihaknya dari lembaga Cirma NTT membangun Kolaborasi dengan BMKG melakukan aksi nyata penanaman kembali bibit anakan pohon dan menggelar sekolah lapang bagi petani kecil di Timor Barat.
“Ada 6000 petani kecil di wilayah Timor didampingi Cirma yang tersebar di 30 desa termasuk di Kota kupang ada 300 petani yakni Di Bello, Naioni dan Kolhua. Sehingga kami mohon pihak pemerintah melalui Lurah Bello memberi ruang untuk kita saling Kolaborasi melakukan mitigasi terhadap perubahan Iklim karena yang paling berdampak petani kecil,” jelas Ladjar.
Sekretaris Lurah Bello, Denny Paty mengatakan, apa yang dilakukan Lembaga Cirma dan BMKG NTT sangat baik sebagai aksi nyata bagaimana menyelamatkan bumi sebagai penyedia pangan untuk semua makluk hidup.
“Kami perlu apresiasi apa yang dilakukan hari ini kolaborasi antara Lembaga Cirma, BMKG dan petani Bello sebagai upaya aksi nyata bagaimana menyelamatkan bumi yang telah menyediakan pangan untuk semua makluk di bumi,” kata Denny Paty. (Goe).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




