
KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Perubahan iklim global mulai memperlihatkan dampak nyata di Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejumlah pohon yang lazimnya baru berbunga pada Desember kini tampak lebih cepat mengeluarkan bunga pada September.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: apakah musim di wilayah kering ini mulai bergeser?
Kornelis Tuan, petani jagung asal Belo, Kota Kupang, mengaku heran melihat pohon-pohon di sekitar kebunnya berbunga lebih awal.
“Biasanya pohon di dekat kebun saya baru berbunga menjelang Natal. Sekarang, baru bulan September sudah penuh bunga. Kami bingung, karena musim tanam ikut kacau,” ujarnya, Senin (22/9/2025).
Hal serupa diamati Johni Manehat, guru sains di SMA Negeri 11 Kupang. Menurutnya, tumbuhan memiliki mekanisme alami untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan.
“Ketika hujan turun lebih awal, pohon menafsirkan itu sebagai tanda pergantian musim. Beberapa tanaman beradaptasi dengan menyesuaikan waktu berbunga demi memperbesar peluang reproduksi,” jelas Johni.
Dari sisi ilmiah, fenomena ini sejalan dengan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Alpin, staf klimatologi BMKG Penfui Kupang, menegaskan bahwa perubahan iklim bukan lagi sekadar wacana, melainkan kenyataan yang kini semakin terasa.
“Perubahan iklim sangat nyata. Suhu rata-rata meningkat, variabilitas iklim semakin besar, dan kejadian ekstrem makin sering terjadi. Semua ini membuat musim menjadi tidak menentu,” katanya.
Alpin menambahkan, salah satu tanda paling jelas adalah munculnya bunga lebih awal pada sejumlah pohon.
“Biasanya berbunga pada Desember, tetapi tahun ini sudah terlihat pada September. Selain faktor suhu, curah hujan juga berperan. Seharusnya bulan-bulan ini masih masuk kemarau, tetapi faktanya hujan masih sering turun. Data kami menunjukkan sifat hujan berada di atas normal atau lebih tinggi dari biasanya,” ujarnya.
Meski demikian, Alpin mengingatkan bahwa pola iklim bisa berbeda pada tahun-tahun berikutnya.
“Pola iklim kita makin sulit diprediksi. Dampaknya besar terhadap pertumbuhan tanaman dan ketahanan pangan. Karena itu, masyarakat harus beradaptasi, dan pemerintah perlu menyiapkan kebijakan mitigasi maupun adaptasi iklim yang lebih konkret,” tegasnya.
Fenomena pohon berbunga lebih awal ini bukan sekadar perubahan kecil dalam siklus alam, melainkan sinyal kuat tentang bergesernya keseimbangan ekosistem.
Ia juga menjadi pengingat bahwa adaptasi terhadap perubahan iklim adalah kebutuhan mendesak, bukan pilihan. (goe).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




