Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Woow !! Nagekeo, Nomor Satu Pengembangan Literasi, Numerasi dan Karakter di NTT

Dari kiri ke kanan, Manajer Inovasi provinsi NTT, Hiroshima Sugi, Kepala BPMP NTT Hestiana dan moderator dalam media Gathering pak Yahya.

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT – Literasi, Numerasi dan Karakter, menjadi sesuatu yang perlu didorong sekuat tenaga.

 

Hal ini penting karena masih banyak anak SD, SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi yang tidak bisa membaca.

 

Ini bukan hanya terjadi di NTT, tetapi hampir di seluruh propinsi di Indonesia, kecuali Jawa.

Bayangkan saja, pelajaran kelas III atau kelas IV sekolah dasar, terbawa sampai perguruan tinggi.

Manajer Inovasi Provinsi NTT Hironimus Sugi mengatakan, sejauh ini baru satu kabupaten yang literasi, Numerasi dan karakternya sudah menemukan jalannya.

“Yaitu kabupaten Nagekeo. Nagekeo Itu kami baru melatih di bulan Maret tahun 2020. Satu kali pelatihan terus lock down covid-19. Tetapi mereka sudah anggarkan 7 kali pertemuan mereka lakukan secara mandiri. Karena apa, komitmen. Komitmen yang tinggi mereka lakukan. Maka covid atau apa pun tidak menjadi halangan untuk mereka. Sekarang apa literasinya nomor 1 Se-NTT”, kata Hiro usai kegiatan Media Gathering dalam rangka kampanye program prioritas di Neo Hotel, Selasa (15/10/24).

 

Menurut dia, pemimpin suatu daerah memegang kendali dalam mendorong sebuah program termasuk literasi.

 

“Artinya konsistensi pemerintah daerah, kepemimpinan itu yang menjadi sangat penting”, ujar dia.

“Kalau di Ngada tadi pak Yandri sampaikan, sudah tersistemastis maka tidak tergantung pemimpin.
Kalau komitmen semua pihak sudah ada siapapun pemimpinnya pasti hasil di tingkat lapangan bisa kita ukur”, ucap Hiro.

Ia menambahkan, di Ende Sekolah Tinggi Pastoral (STIPAS) itu juga menjadi sasaran, program ini.

“Sudah 30 dosen dan alumni kami latih. Di Unika Weetabula kami latih dosen dan mahasiswa. Di STKIP Citra Bhakti di Bajawa kami latih. Bahkan mereka mengadopsi kurikulum bahasa Ibu. Satu-satunya di Indonesia. Mereka akan melatih Mahasiswa. Jadi startnya dari calon – calon guru. Sekarang kami penjajakan dengan Undana, Unika, supaya kedepan kita menyiapkan guru yang bisa menjawab kebutuhan di sekolah”, urainya.

 

Sementara di kabupaten Kupang ia menjelaskan, sudah ada komunikasi antara Inovasi dengan dinas Pendidikan dan kebudayaan.

“Kami sudah komunikasi mereka siap anggaran kami suport. Sama dengan kabupaten lain jika punya keinginan untuk terapkan itu kami bisa suport”, ujar dia.

Ia mengatakan Inovasi tidak bergerak sendiri tapi menggandeng pihak terkait.

 

“Kami ajak BPMP dan pihak lain supaya program ini selesai tecnis capasity itu masih tertinggal di institusi yang ada”, jelas Hiro.

Kapan rencana itu dijalankan pak Hiro ?

“Sebetulnya di bulan November tapi ada kegiatan-kegiatan. Tapi yang pasti di akhir tahun ini. Kami sudah dijumpai oleh salah satu staf di dinas. Berjumpa dengan ibu kabid sebetulnya pak Kadis sendiri mengharapkan kita bisa mensuport di kabupaten kupang hanya memang kabupaten Kupang ini secara formal belum terpilih menjadi kabupaten mitra. Menunggu pelantikan Bupati dan wakil bupati. Akan tetapi untuk kabupaten mana saja yang sudah punya anggaran kami sudah menyiapkan diri kami tanpa dibiayai. Kami punya biaya sendiri untuk datang membantu kabupaten tersebut untuk mengembangkan ini. Supaya menjadi milik kabupaten”, urai dia.

 

Ia mengatakan, jika terealisasi, pihaknya bersama Kadis Pendidikan dan kebudayaan kabupaten Kupang langsung merekrut fasilitator.

“Sehingga ketika kami melatih itu latih gurunya juga fasilitator daerah yang nanti akan meneruskan hal yang sama di kabupaten tersebut”, terang Hiro.

Selain di beberapa daerah di Flores, pihaknya juga sudah mengembangkan reading camp di 4 kabupaten di daratan Sumba.

“Sudah tapi persoalannya inikan konsistensi keberlanjutan ya. Apakah pemimpin baru datang mereka masih komit untuk melanjutkan. Ini soal Komitmen”, pungkas dia.
(Sintus).

  • Bagikan