OELAMASI, FLOBAMORA-SPOT – Calon Bupati dari paket Merakyat, Melki Buraen menanggapi dingin ucapan “tenganga” yang dilontarkan paket Kemesraan saat kampanye di satu dua titik.
Ucapan Meserasi Ataupah dalam sebuah video berdurasi 2 menit di media sosial tidak membuat Melki Buraen tersinggung.
“Jadi terkait dengan statement dari paket lain itu bagian dari penilaian mereka terhadap paket-paket yang ada. Tetapi secara prinsip Melki berjuang dari tahun 2018 dan gagal karena partai pengusung salah satu kurang lima hari itu menarik diri dari Melki. Maka Melki kurang syarat untuk maju. Untuk itu kali ini Melki maju dan siap untuk bertarung. Terlepas dari mereka menganggap saya ini adalah pasangan yang boleh dia katakan tenganga, itu biarkan saja hak mereka bicara. Masyarakat yang akan menilai”, ujar Melki ketika dikonfirmasi media ini usai debat kandidat di aula Elim Naibonat jalan Timor Raya Sabtu (12/10).
Melki mengatakan, dirinya tidak menggubris pernyataan paket tersebut, karena tidak menyebut nama.
Namun ia tetap menerima sebagai langkah perbaikan bagi dirinya.
“Itu juga bagian dari saya untik introspeksi diri saya untuk saya buktikan bahwa, saya maju bukan sekedar maju. Saya maju karena saya punya ide dan gagasan bagi kabupaten Kupang”, ujar dia.
“Jadi biarkanlah orang lain mengatakan bahwa saya tenganga, saya menerima itu, untuk introspeksi diri saya, bagaimana kedepan bisa membuktikan bahwa saya tidak tenganga”, tambah dia.
Ia menyayangkan paket tersebut yang menyampaikan isu SARA saat kampanye.
“Ya kalo kita mau maju dengan hanya kita melihat kesukuan maka dengan sendirinya kita berada di dalam tempurung. Karena kabupaten Kupang inikan bukan hanya suku A, B dan suku C tetapi adalah masyatakat kabupaten Kupang punya hak yang sama. Bagi saya itu”, ucap dia.

Calon Bupati dari paket Korsa, Korinus Masneno menanggapi komentar paket tersebut dengan penuh sinisme.
“Ee sudahlah. Terima kasih. terima kasih bagi yang hebat. Bagi kami biasa-biasa saja ya”, ujarnya sambil tertawa.
Sebelumnya media online omongpolitik.com memberitakan,
Dalam sebuah video singkat berdurasi 2 menit yang kini viral di tengah-tengah masyarakat Kabupaten Kupang, Meserasi Ataupah, Calon Bupati Kupang dari Paket Kemesraan (Meserasi Ataupah-Maria Nuban Saku) dalam kampanye di salah titik menyampaikan, jika dirinya tidak maju dalam pilkada Kabupaten, maka ‘kase’ yang akan menang.
Menarik, ada beberapa kata dan kalimat kunci yang bisa membawa kita untuk memahami cara berpikir Meserasi Ataupah. Antara lain; 1) “kalau saya tidak maju, bosong liat 5 paket ini, kalau saya tidak maju, ini kase dong menang.”, 2) “dong berani ini karena kotong punya tanganga.”. Kalimat kedua yang berisi kata ‘dong’ (mereka) setelah kalimat pertama merujuk pada yang dimaksud Meserasi sebagai ‘kase’, sementara ‘kotong punya’ berarti yang dimiliki oleh audiens/peserta bersama dengan Meserasi sendiri sehingga sudah pasti merujuk pada sesama orang Amarasi.
Jadi, sesuai isi video tersebut, ‘Kase’ yang disampaikan Meserasi merujuk pada orang-orang yang bukan orang Amarasi. Kase yang dimaksud Meserasi bukan nontimor atau bukan atoin meto sebab dalam lanjutan orasinya, Meserasi juga menyampaikan bahwa di daerah lain seperti di Flores ataupun Sabu, orang Amarasi tidak bisa jadi pemimpin atau ikut maju sebagai calon dalam gelaran pilkada.
Meserasi juga menegaskan bahwa dirinya maju agar orang Amarasi diperhitungkan, karena calon lain milik mereka (kotong punya) yang sementara bersama dalam pertemuan tersebut yang bukan kase adalah orang tanganga (tanganga artinya mungkin hampir sama dengan lamban, bodoh, dan pasif)
“Dong berani maju ini karena kotong punya tanganga. Saya maju ini karena saya mau kasih tunjuk bahwa orang Amarasi ini orang hebat.” orasi Meserasi.
Tentu saja yang dimaksud Meserasi sebagai Dong atau ‘Kase’ dalam pilkada Kabupaten Kupang adalah calon bupati bukan orang Amarasi yakni Jerry Manafe dan Yosep Lede. Sementara calon bupati yang ‘bukan Kase’ sesuai pemahaman Meserasi Ataupah yakni yang sama-sama berasal dari Amarasi yaitu Korinus Masneno dan Melki Buraen yang olehnya dinilai sebagai orang yang tanganga.
Sejumlah pendukung Meserasi sama sekali tidak menganggap Melki Buraen sebagai lawan tangguh. Bahkan sesuai isi video yang viral itu, Melki Buraen dan Korinus Masneno dalam gambaran Meserasi dan sejumlah pihak adalah calon yang tanganga yang karenanya membuat Amarasi tidak diperhitungkan sehingga Meserasi harus maju agar orang tahu bahwa orang Amarasi juga hebat (karena dalam penilaian Meserasi, dia adalah orang hebat).
Sejumlah pendukung Meserasi sama sekali tidak menganggap Melki Buraen sebagai lawan tangguh. Bahkan sesuai isi video yang viral itu, Melki Buraen dan Korinus Masneno dalam gambaran Meserasi dan sejumlah pihak adalah calon yang tanganga yang karenanya membuat Amarasi tidak diperhitungkan sehingga Meserasi harus maju agar orang tahu bahwa orang Amarasi juga hebat (karena dalam penilaian Meserasi, dia adalah orang hebat).
Sementara itu beberapa pendukung Paket Korsa (Korinus Masneno-Silvester Banfatin) yang ditemui menyesalkan pernyataan Meserasi yang menyinggung soal kase dan nonkase. Menurut mereka, boleh saling menyerang soal program tiap paket calon, asal jangan mengait-ngaitkan dengan suku atau agama (SARA) seperti kebiasaan orang yang tidak terdidik.
Mereka juga menilai, Meserasi hampir seperti kacang lupa kulit yang tidak mau tahu bahwa sebenarnya orang Amarasi yang lain termasuk Korinus Masneno juga punya kontribusi untuk membesarkan dan menjaga karirnya selama aktif jadi pejabat di Kabupaten Kupang sehingga di kemudian hari malah ikut menilai Korinus dan figur Amarasi lainnya secara buruk.
“Kaka dong tanya sa itu kepala-kepala puskesmas selama Meserasi jadi kepala dinas kesehatan kabupaten kupang itu dia bagaimana. Nanti dong cerita. Dulu dia juga pernah bawa perempuan selingkuhannya ko paksa dobrak pintu rumah dinas di fatuleu untuk mau nginap dengan selingkuhan dan kemudian heboh itu, itu juga berusaha dijaga oleh sesama orang Amarasi, termasuk pak Korinus, agar dia tidak jatuh karir begitu saja. Sekarang baru dia nilai sesama orang Amarasi tanganga na dia sendiri yang hebat. Kasian e kalau begini.” sesal mereka.
Sementara itu sejumlah pendukung Melki Buraen di Amarasi Timur dan Amarasi Selatan yang ditemui terpisah menyampaikan, apapun penilaian orang lain kepada Melki Buraen, mereka akan solid untuk mendukung Melki Buraen dari paket merakyat.
Menurut mereka, sebagian besar warga pemilih Amarasi saat ini sudah sadar bahwa pilkada juga sekaligus momentum untuk berpolitik dengan menggunakan nilai sehingga kader yang didukung adalah kader yang kemudian tidak mencederai nilai-nilai kehidupan bersama dengan menampilkan perilaku yang sarat KKN, tamak, dan rakus sehingga mengorbankan hak masyarakat, tetapi kemudian yang bersangkutan tetap merasa tidak ada beban bahkan merasa diri berhasil.
“Mau kalah atau menang, kami tetap pilih pak Melki Buraen karena kami ingin orang tahu bahwa orang Amarasi masih mau berpolitik pakai akal sehat dan berpolitik mengunakan nilai. Bukan berpolitik karena sirih pinang yang bikin ludah memerah sampai bikin jadi lupa diri dan rela bikin malu diri sendiri. Kami orang tidak berpendidikan, tapi kami tahu ada nilai yang harus kami laksanakan dalam berpolitik. Kalah atau menang tidak masalah, intinya itu, jangan bawa sentimen SARA dan juga jangan bikin malu diri karena sirih pinang bikin lupa diri.” tegas mereka.
(Sintus/omongpolitik.com).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




