OELAMASI, FLOBAMORA-SPOT – Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan teknologi (Iptek) membuat remaja jaman now mengakses informasi seputar alat reproduksi tanpa kontrol.
Akibatnya banyak remaja perempuan hamil dan melahirkan di luar nikah.
“Sesuai data tahun 2024 ini, remaja usia 15-19 sebanyak 375 anak perempuan di kabupaten Kupang yang hamil dan sudah melahirkan”, ujar Kepala Dinas DP2KB Kabupaten Kupang Tjokorda Swastika kepada media Rabu (9/10/24).
Menurut Swastika, meski mereka menjadi korban Iptek, namun perlu mendapat perhatian dari pemerintah dan berbagai stakeholder.
“Perlu diedukasi remaja-remaja kita karena usia remaja ini mereka mengejar mimpi mengejar cita-cita sehingga kita harapkan angka itu bisa diturunkan”, terang dia.
“Kami di BKKBN itu ada duta Genre yang bisa memberikan edukasi diantara teman sebaya untuk mencegah perkawinan usia dini, pencegahan seks bebas dan narkoba”, tambah dia.
Masih menurut Swastika, duta Genre menjadi pendidik sebaya bagi teman-temanya.
“Memperbanyak pengetahuan remaja kita itu perlu untuk terhindar dari hal-hal negatif”, jelas Swastika.
“Kami juga ada forum anak. Mereka menyuarakan hak dan perlindungan anak”, tambah dia.
Tentang upaya pencegahan stunting ia menjelaskan, BKKBN berupaya menyiapkan calon ibu untuk menyiapkan diri sebelum nikah.
Ia mengatakan, masih rendah calon pengantin (catin) mengakses Elektronik Siap Nikah dan Hamil (Elsimil). Sehingga kedepan BKKBN dan Lembaga agama bersinergi untuk menyiapkan ibu muda secara matang.
“Kita berharap, upaya ini menghasilkan Catin yang berkwalitas dan pada gilirannya melahirkan generasi yang berkwalitas pula”, terang dia.
Sejak kapan kerjasama dengan lembaga agama dilakukan ibu ?
“Selama ini sudah berjalan, hanya perlu alur yang jelas. Misalnya ketika mau katekisasi mungkin harus mendapat rekomendasi, sudah dapat pemahaman 1000 Hari Pertama Kehidupan, pemàhaman tentang gizi, sehingga kita berproses bersama dalam alur pendampingan”, ujar dia.
Menurut Swastika, melalui pendampingan itu pihaknya bisa melakukan screening dan pendampingan selanjutnya.
“Tim pendamping keluarga melakukan screening kesehatan calon pengantin itu, sehingga ketika catin bermasalah tentang kesehatan bisa diketahui sebelum dia menikah.
Pendampingan catin itu 3 bulan sebelum menikah. Itu yang kita harapkan catin – catin yang sehat, melahirkan generasi yang sehat”, ujar Swastika.
Terkait pasangan yang “kecelakaan” ia mengatakan, kalangan ini tidak bisa dibiarkan. Perlu juga diberikan edukasi.
“Edukasinya tentang 1000 hpk. Edukasi Gizi, edukasi kesehatan reproduksi, perawatan bayi balita sehingga menghasilkan generasi yang berkwalitas”, pungkas dia. (Sintus).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




