Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Aurum Titu Eki: Angka Kematian Ibu dan Bayi Harus Jadi Bahan Evaluasi Bersama

Wakil Bupati Kupang Aurum Titu Eki saat membuka kegiatan Diseminasi Hasil Kajian Kematian Ibu dan Bayi melalui metode Audit Maternal Perinatal — Surveilans Responsif (AMP-SR).

OELAMASI, FLOBAMORA-SPOT — Wakil Bupati Kupang Aurum Titu Eki mengingatkan, setiap kasus kematian ibu dan bayi harus menjadi keprihatinan sekaligus bahan evaluasi bersama guna memperbaiki pelayanan kesehatan secara berkelanjutan di Kabupaten Kupang.

Pernyataan itu disampaikannya saat membuka kegiatan Diseminasi Hasil Kajian Kematian Ibu dan Bayi melalui metode Audit Maternal Perinatal — Surveilans Responsif (AMP-SR).

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang, pada tahun 2025 tercatat 8 kasus kematian ibu dan 44 kasus kematian bayi. Sementara hingga bulan Agustus 2026, sudah tercatat 4 kasus kematian ibu dan 30 kasus kematian bayi.

“Kita mau dibilang kehilangan keturunan penerus marga. Angka ini harus jadi perhatian bersama. Pertemuan hari ini momen untuk kita evaluasi”, imbau dia.

Menurut Aurum, angka-angka tersebut menunjukkan, upaya penurunan kematian ibu dan bayi masih memerlukan perhatian, kerja keras, serta kolaborasi dari seluruh pihak.

“Kita tidak boleh hanya berhenti pada pencatatan jumlah kasus, tetapi harus memastikan setiap kasus dikaji untuk mengetahui penyebab dan faktor-faktor yang berkontribusi,” tegas Aurum Titu Eki.

Politisi PSI itu menjelaskan, kegiatan AMP-SR memiliki peran penting sebagai instrumen untuk melakukan kajian sistematis terhadap setiap kasus kematian maternal dan perinatal.
“Melalui proses ini dapat diketahui penyebab, faktor risiko, kendala pelayanan, serta hal-hal yang perlu dibenahi agar kejadian serupa tidak terulang”, ujar dia.

Wakil Bupati berharap hasil kajian yang dipaparkan tidak sekadar menjadi dokumen, melainkan diterjemahkan menjadi rekomendasi dan rencana tindak lanjut yang jelas, terukur, dan dapat dilaksanakan.

Rekomendasi tersebut harus menjadi acuan bersama mulai dari tingkat puskesmas, rumah sakit, hingga dukungan pemerintah kecamatan dan perangkat daerah terkait.

“Koordinasi dan kolaborasi lintas sektor perlu diperkuat, karena menurunkan angka kematian ibu dan bayi bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan, melainkan tanggung jawab kita semua,” tegasnya.

Pemerintah Kabupaten Kupang berkomitmen terus memperkuat pelayanan kesehatan yang berkualitas, responsif, dan mudah diakses. Seluruh pihak diharapkan menjadikan hasil AMP-SR sebagai bahan perbaikan nyata di lapangan, sehingga setiap rekomendasi yang dihasilkan dapat dikawal dan ditindaklanjuti.

Wakil Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang, RSUD Naibonat, para tenaga kesehatan, camat, kepala puskesmas, tim pengkaji, serta semua pihak yang telah berkontribusi dalam pelaksanaan kegiatan ini.

Dia berharap, kerja sama yang kuat dapat menjamin keselamatan ibu dan bayi sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di daerah ini.

Kabid Kesmas Masri W. Ndoen melaporkan, Kegiatan berlangsung 2 hari 21-22 September 2026 dihadiri 52 orang dari OPD terkait, BAPERIDA, Dinas PMD dan Dukcapil, 9 orang camat, kepala puskesmas, IBI, PPNI, Tokoh agama dan tokoh masyarakat. (Sintus).

  • Bagikan