KUPANG, FLOBAMORA-SPOT – Memang tak perlu membuat perbandingan antara rasa Nasionalisme di kala ribuan nyawa pejuang dan rakyat mati sia-sia demi mempertahankan Kemerdekaan RI, dibandingkan Nasionalisme terhadap ekonomi rakyat sekarang ini.
Mengapa tidak rasa Nasionalisme kaum buruh tani sekarang ini masih tetap kuat betapa cinta kepada NKRI. Namun bagi sebagian mereka, Nasionalisme ekonomi belum merdeka saat ini karena harga hasil kebun petani masih sangat rendah sebagaimana yang diharapkan Petani saat ini.
Goris Takene salah satu tokoh masyarakat Kelurahan Bello Kecamatan Maulafa Kota Kupang NTT mengatakan, Nasionalisme ekonomi belum benar terlihat, jika ingin melihat bangsa ini benar-benar merdeka 100% dalam kaitan penjabaran Sila Kelima Pancasila.
“Saya berpikir kita mesti berani dan harus koreksi secara tegas sila kelima Pancasila “Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” belum dijabarkan secara sempurna terutama di lingkungan kaum Petani yang ada di desa-desa”, ungkap Goris.
Tatkala Kemarau tiba sering menjadi cerita pilu masyarakat Petani Bello, sebab Saban hari ketika tiba puncak musim kemarau seperti sekarang ini dari Juli-Oktober setiap tahun debit air dari dua mata air di Bello yakni Oel’neneno dan Oelnepaut, berkurang. Sebabkan areal tanam petani mau tak mau dipersempit sesuai dengan ketersediaan air. Bahkan di puncak kemarau seperti Bulan Oktober masyarakat di Bello ada yg terpaksa menyiram sayur dengan bantuan Tengko air dengan cara membeli dengan harga 65 -75 ribu per Tengki.
Hal ini terpaksa dilakukan meskipun kemudian hasil produksi menurun.
“Terpaksa dilakukan Petani untuk bisa pertahankan hidup yang masih tersisah”, ujar dia.
Perkuat Ketahanan Pangan, mesti dibangun Embung.
Terbatasnya curah hujan di wilayah Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu kesulitan warga Petani dalam merintis usaha pertanian dalam jangka waktu yang lama.
Di Kota Kupang khususnya bagi warga petani Kelurahan Bello Kecamatan Maulafa misalnya, sejak dahulu dikenal sebagai salah satu daerah atau kantong pertanian yang juga turut menghidupkan pasar di Ibu Kota Propinsi NTT, akhir-akhir ini para petani pasrah karena terbatasnya debit air terutama pada musim puncak kemarau di Bulan Juli hingga Oktober setiap tahun.
Untuk mengatasi keterbatasan itu, warga Petani di Bello minta agar pemerintah merencakan pengadaan Embung dan bendungan di wilayah itu.
Goris Takene, salah satu tokoh masyarakat di Bello kepada media ini mengatakan, kondisi keterbatasan air hampir dirasakan seluruh masyarakat di NTT dan ini salah satu penyebab kemiskinan. Karena itu masyarakat dan pemerintah mesti terus bekerjasama mengatasi persoalan ini.
Di Bello terdapat balasan hektar areal pertanian basah yang dibiarkan tidur di musim kemarau karena keterbatasan air. Karena itu mesti ada solusi dengan membangun embung dan bendungan terutama di wilayah RT 1 dan RT 7. Karena di situ ada potensi untuk dibangun bendungan maupun embung dan berada di atas lahan pertanian warga.
“Mesti disiasati dengan membangun embung maupun bendungan, sehingga air hujan bisa ditampung untuk dimanfaatkan di kala musim kemarau terutama di wilayah RT 1 dan RT 7 karena berada di atas persawahan”, pinta Takene yang juga Ketua RW 03 Kelurahan Bello.
Petani merupakan Penyanggah Tatanan Negara Indonesia. Sebab Pertanian adalah sumber fundamental dari kemakmuran Nasional, mesti diberi ruang pelayanan yang luas dan memudahkan agar produksi petani tetap tersedia di pasar. (GT).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




