Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Flora:”Kaca Jendela Tempat Obat Disimpan Kita Tutup Dengan Seng dan Triplex, Jika Tidak Obat-Obat Basah”

Kontributor : Sintus Editor: Redaksi
Koordinator Bidan Pustu Oelnasi Flora Susanti dan salah satu rekannya berdiri di bawah jendela yang terpaksa dititup dengan tripleks dari luar untuk mengamanlan obat di dalam ruangan. Diabadikan Senin (27/2)

OELAMASI, FLOBAMORA-SPOT.COM – Kondisi Puskesmas Pembantu (Pustu) desa Oelnasi, Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang, NTT sudah tak layak pakai. Namun Gedung itu masih terus dipakai karena tidak ada tempat lain untuk pelayanan.

 

Koordinator Bidan Pustu Oelnasi ketika ditemui di Pustu tersebut mengatakan salah satu kaca jendela harus ditutup dengan Triplex dan Seng untuk mengamankan obat.

 

“Kaca jendela belakang dekat lemari obat ditutup menggunakan triplex dan seng dari atas supaya bisa melindungi obat. Kalo tidak obat basah dan hancur”, kata Flora Susanti Koordinator Bidan Pustu Oelnasi kepada Media Senin (27/2).

Tripleks di ruangan ini pernaj katuh menimpa Petugas.

Menurut dia, hujan angin beberapa hari terakhir membuat pihaknya harus memindahkan lemari obat, untuk menghindari hujan.

 

“Obat sudah di pindahkan ke sini yang agak sedikit tertutup karena yang di ujung sana kalau hujan angin, otomatis basah semua”, kata dia sambil menunjuk salah satu ruangan.

 

Flora menjelaskan, Pustu Oelnasi sudah saatnya direhab.

 

“Kalau hujan di sini bocor seng atap sudah mulai terangkat. Terus kosen dan pintu kamar periksa pasien itu ada sedikit jarak jadi jika ada pasien masuk ke dalam untuk melakukan tes kehamilan kita harus berdiri dari luar untuk pegang”, begitu Flora bercerita.

Penampakan pintu belakang Pustu Oelnasi. Sudah hancur.

“Semoga kita punya pustu bisa di renovasi”, tutupnya.

 

Oscar Bara salah satu Staf desa Oelnasi mengatakan, usulan paling mendesak dalam Musrenbang tahun ini yakni Pustu Oelnasi.

 

“Di tingkat Musrenbangcam sudah dicatat sebagai kebutuhan prioritas Satu”, pungkasnya.

 

Kepala Desa Oelnasi Yusak Leinati ketika ditemui Media ini di kantor desa Senin (27/2) blak-blakan mengenai gedung tersebut.

Atap seng Pustu Oelnasi sudah banya yang hancur.

“Kit turun langsung melihat, kayu yang di gunakan untuk atap semuanya sudah patah. Sengnya juga sudah bocor dan juga pintu pintunya juga sudah hancur. Kami sudah 6 kali usul di Musrenbang tapi belum ada jawaban”, ujar Leinati.

 

Menurut dia, perbaikan gedung tersebut merupakan kebutuhan mendesak yang harus segera dilakukan. Karena jika tidak maka akan berakibat pada obat yang disediakan di Pustu itu.

 

“Jadi harapan kami sebagai pemerintah desa dan masyarakat yang ada di sini bisa gedung Pustu diperbaiki. Sehingga obat obat yang diberikan oleh puskesmas bisa bertahan. Karena jika hujan maka semuanya hancur. Jadi jika masyarkat ingin berobat tidak bisa karena obatnya sudah hancur. Harapan kami tolong dari dinas kesehatan memperhatikan, supaya aman. Itu harapan saya sebagai pemerintah desa. Kalau bisa nanti bapa ke lokasi untuk ambil gambar nya sehingga itu semua terbukti kalau kita hanya berbicara maka mereka mungkin berpikir bahwa ini rekayasa bahasa, tapi kita harus buktikan dengan gambar”, urainya.

 

Disinggung mengenai dana Desa yang bisa dialokasikan untuk perbaikan Gedung tersebut ia mengatakan, dana desa hanya dipakai untuk posyandu.

 

“Jadi kalau kami pemerintah desa berpikir bahwa, seandainya diijinkan untuk ambil dana desa untuk perbaiki Pustu saya siap tapi tidak di ijinkan. Misalnya sekolah itu kami hanya bisa perhatikan PAUD, SD, tapi kalau SMP -SMA tidak bisa dari dana desa. Tapi jika mau maka ijinkanlah kami untuk ambil dana desa untuk perbaiki. Karena itu adalah masyarakat kami yang kerja di dalam. Mereka perlu di perhatikan karena ketika terjadi rumah rubuh lalu tendes orang, kader atau bidan desa di situ pasti di pertanyakan apa alasannya tapi tak terjawab. Ketika musim hujan seperti ini mereka duduk tidak tenang, karena semuanya hancur. Tadi pagi saya pergi mereka mengeluh. Saat saya sampaikan ke atasan saya, tapi tetap kami tidak bisa menggunakan dana desa”, pungkas dia.

  • Bagikan