Messerasi:”Semau Zona Hijau, Ijin Acara Diberikan”

  • Bagikan
Kadis Kesehatan NTT dr. Meserasi Ataupah saat berkunjung ke Poltekes Kemenkes Kupang beberapa waktu lalu

OELAMASI, FLOBAMORA-SPOT.COM – Video terkait pesta pora di Pulau Semau, Kabupaten Kupang,  viral di Medsos dan ditanggapi beragam oleh Nitizen. Pesta pora itu diptotes karena berlangsung saat PPKM Level 4 sedang diterapkan di Provinsi NTT. Sebagai bawahan kadis Kesehatan NTT dr. Meserasi Ataupah harus mengkalirifikasi.

 

“Pertama, Semau adalah zona hijau. Jadi ijin diberikan, dan  kegiatan pasti diawasi oleh satgas. Dan kami dari dinas kesehatan memberikan ijin. Dan kabupaten Kupang masuk level 3 yang membolehkan  kegiatan perekonomian dan kegiatan lain dengan batas-batas yang tidak terlalu ketat. Dalam perjalanan acara tentu ada yang lupa pakai masker dengan benar.  misalnya seperti saya masker dikasih naik turun ke dagu dan hidung, tentu harusnya satgas yang mengingatkan. Satgas itu harus hadir memantau proses kegiatan itu. Apakah kegiatan itu  sudah berjalan sesuai tata tertib dan ketentuan dengan penerapan prokes?  Jadi jika ada satu dua orang yang lakukan pelanggaran prokes  ya satgas kasih ingat, ditegur agar pakai masker. Satgas harusnya berfungsi dalam memastikan penerapan prokes” kata Ataupah Senin (30/8).

 

Ia juga menuturkan, terkait prokes yabg tidak di terapkan itu bukan tugas dari dinkes melainkan satgas. “Karena itu ranahnya satgas. Dan seharusnya satgas disana masuk mengontrol apakah prokes dilaksanakan atau tidak” tambahnya

 

“Tapi kan kita ke sana juga sudah lewati tahapan yang seharusnya dilaksanakan misalnya pemeriksaan swab antigen dan sudah vaksin. Tapi biasanya rakyat misal pejabat kepala daerah datang ke suatu wilayaj, misalnya presiden, pasti akan undang kerumuman warga. Dan seharusnya satgas masuk dan laksanakan tugas mereka. Itu kan tugas satgas kita tidak bisa masuk ke ranah itu” ungkapnya lagi

“Kegiatan di Semau  melanggar Prokes atau tidak saya tidak bisa bilang iti ranahnya Satgas. Tapi kami ijinkan karena sebelum kegiatan semua peserta  sudah divaksin dan diswab. Dan pulau Semau zona hijau”, ujarnya.

Di kabupaten Kupang saat ini, terang dr.Mese, sudah diberlakukan PPKM Level 3, walau tidak secara keseluruhan.

“Namun saya lihat kasus Covid di sana tidak sampai harus level 3, kalau dilihat datanya harusnya sudah turun level 2. Kasusnya seperti kota Kupang bilangnya level 4, tapi kalau data yang kita punya kota Kupang sebenarnya level 3.  Bahkan kalau dibersihkan lagi datanya, kota Kupang sudah menuju level 2 seharusnya” kata dr. Mese kepada media diruang kerjanya.

Ia menjelaskan, data dari 22 kabupaten kota, masih ada pendobelan. Dan jika dibersihkan lagi maka bisa turun level.“Memang data sudah dibersihkan, dan saat ini seperti kota Kupang jika turun lagi 100 sudah turun level 2. Seharusnya jika  data sudah dibersihkan seluruhnya, maka NTT sudah turun level 2. Data yang ada menggunakan aplikasi New All Record yaitu data kompilasi atau akumulatif.  Jadi data lama masih masuk. Hitungan sekarang akumulatif  bukan real time. Kita di NTT sebenarnya sudah punya aplikasi sendiri tapi data sangat beda jauh dengan NAR maka hentikan dulu aplikasi NTT.  Kita pakai aplikasi NAR.  Data kemarin jika kurang 50 orang saja atau kita pakai data real time, bisa evaluasi dan tekan turunkan angka positif. Jika semua faskes kurangkan 1 saja sehari lewat semua upaya, satu minggu lagi kota Kupang  level 1. Data Real time adalah sebagai respon seperti kata bapa presiden untuk kerja keras tuntaskan Covid dari NTT. Dengan data real time, kita bisa evaluasi semua aturan dan upaya. Dan apa lagi kebijakan yang perlu dilakuakan agar NTT bebas Covid dan PPKM dicabut”, Jelasnya.

Menurut dia, Dinas kesehatan sudah melakukan upaya  vaksinasi demi menekan dan memutus rantai penularan Covid di NTT.  “Hingga saat ini kota Kupang sudah terbaik karena sudah mencapai 56% (193.079. Orang). Sedangkan di wilayah lain dengan vaksinasi tahap 1 terendah adalah Sabu Raijua, Mangarai Timur, Ngada masih di bawah 10%.

Sedangkan NTT baru 18% lebih dan sampai Desember harusnya 70%”, ungkapnya.

 

“Makanya saya heran kenapa masih PPKM level 4, harusnya kalau datanya real time maka sudah bisa level 3 atau dua.” pungkasnya. (Ellena)

  • Bagikan