Ini Dua Mata Air, Tempat Masyarakat Bello Gantungkan Harapan

0 273

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT.COM – Bagi Masyarakat Kota Kupang kelurahan Bello tidak asing bagi telinga mereka. Di mana letaknya dan mayoritas penduduk etnis mana yang mendiami kelurahan tersebut mereka hafal betul. Masyarakat Kota Kupang juga tau mata pencaharian masyarakat di sana.

 

Ya. Masyarakat Bello terdiri dari mayoritas etnis Timor Helong dan sebagian kecil adalah Pendatang. Mereka hidup dari bercocok tanam. Bicara bercocok tanam, tentu tidak terlepas dari air sebagai kebutuhan paling besar.

 

“Di Kelurahan Bello ini terdapat dua sumber air yang cukup menghidupkan masyakat Petani di Bello selama ini. Dua mata air itu yakni Oelnepaut atau dalam sapaan adat Oel Netuan karena sejak turun-temurun dalam prosesi adat mesti dijaga dan dilakukan oleh tokoh adat Netuan. Mata air ini berlokasi di RT 02/RW 02
Kemudian Oelneneno di RT 07/RW 03 atau lokasi di lingkungan Netkene yang juga dalam setiap prosesi mesti dilakukan oleh tua adat dari lingkungan Netkene”, ujar tokoh masyarakat Bello Gregorius Takene ketika dihubungi pertelepon Rabu, (12/5/21.

Mssyarakat sedang bergotong-royong membersihkan mata air di Bello Rabu (12/5/21)

Mantan Pekerja Media ini mengatakan, Pemetaan ini sudah dilakukan sejak dulu, oleh para leluhur NETUAN dan NETKENE di Bello.

 

“Karena itu sangat beralasan mengapa dalam pemilihan pemangku adat/pemerintahan lingkungan kemarin dua wilayah ini mempertahankan pemiliknya (pemilik tanah-red). Meskipun secara akademik tak memenuhi syarat. Ini adalah budaya yang adalah aset masyarakat dan bangsa yang mesti dijaga dan dilestarikan”, jelas Takene.

 

Menurut dia, sejak bertahun tahun Petani Bello menggantungkan harapannya pada dua sumber air itu.

 

“Nah, supaya tidak salah dalam pengelolaan dan leluhur marah maka adat mesti dikembalikan pada yang seharusnya. Ini yang sedang saya upayakan”, ungkapnya.

 

Ketika disinggung tentang kemajuan jaman yang makin pesat sehingga kepercayaan seperti itu harus ditinggalkan Goris mengatakan, “itulah… banyak yang bilang sekarang sudah modern jangan percaya yang begituan tapi kenyataan alam dan leluhur itu di sekitar kita”. (G)