KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Anggota DPR RI dari Partai Gerindra, Ir. Esthon Foenay, M.Si., menghadiri pemakaman mantan Camat Maulafa sekaligus mantan Kepala Desa dan Lurah Bello, Corinus Tuan, di Kelurahan Bello, Kota Kupang, Selasa (3/11/2026).
Kehadirannya menjadi bentuk penghormatan kepada almarhum yang dikenal sebagai tokoh pemerintah, sesepuh dan tokoh adat masyarakat Bello.
Esthon Foenay, anggota DPR RI periode 2024–2029 dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur II, menyampaikan bahwa Corinus Tuan meninggalkan jejak pengabdian, keimanan, dan keteladanan bagi masyarakat.
“Sebagai seorang pensiunan aparatur pemerintah yang pernah mengemban tugas sebagai kepala kecamatan di Kota Kupang, almarhum telah meninggalkan resonansi pengabdian dan keimanan yang bergema di tengah masyarakat Nusa Tenggara Timur, khususnya Kota Kupang. Dan lebih khusus lagi masyarakat Bello, kita doakan agar kebaikan yang pernah ditorehkan bagi masyarakat mendapat ganjaran dari Tuhan Yesus Kristus,” kata Esthon.
Corinus Tuan dimakamkan melalui prosesi adat tutur natoni oleh tokoh adat Bello, Lukius Takene, bersama tim, serta diawali ibadat pemakaman yang dipimpin Pendeta GMIT Efata Bello.
Camat Maulafa, Imanuel Aprianus Eliaser, S.H., yang turut menghadiri pemakaman, menyampaikan belasungkawa atas berpulangnya Corinus Tuan, yang meninggal dunia pada usia 67 tahun.
Atas nama pribadi dan jajaran Pemerintah Kota Kupang, Imanuel menyebut almarhum sebagai sosok yang telah memberikan kontribusi bagi pemerintahan dan masyarakat, khususnya Kecamatan Maulafa dan Kelurahan Bello.
“Setinggi apa pun jabatan dan sebanyak apa pun karya yang telah dihasilkan, pada akhirnya setiap manusia akan kembali kepada Sang Pencipta, pemilik kehidupan. Namun, yang tetap tinggal setelah kepergian seseorang adalah kenangan, keteladanan, dan nilai-nilai kebaikan yang diwariskan kepada mereka yang melanjutkan kehidupan,” tuturnya.
Sementara itu Pdt Yunita E Ratu Lobo Abola, Ketua Majelis Jemaat GMIT Efata Bello dalam kotbah ibadat pemakaman mengibaratkan, Corinus Tuan sebagai pohon besar yang menjadi tempat bersandar bagi keluarga dan masyarakat Bello.
Kepergiannya menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia memiliki batas dan tidak seorang pun mampu menahan panggilan Tuhan.
Pendeta Yunita mengajak keluarga dan pelayat mengenang kebaikan almarhum serta menjadikan kematian sebagai refleksi untuk memperbaiki kehidupan, menjaga hubungan dengan sesama, dan terus berbuat baik.
Almarhum meninggalkan seorang istri dan lima anak.
Keluarga serta masyarakat Bello melepas kepergiannya dengan doa, penghormatan adat, dan pengharapan akan penghiburan Tuhan. (goe).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




