KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Anak-anak yang menjadi korban gempa bumi di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, perlu dipastikan tetap mendapatkan ruang yang aman untuk belajar, bermain dan berinteraksi di tengah situasi pascabencana.
Upaya pemulihan tidak hanya berfokus pada perbaikan rumah dan fasilitas umum, tetapi juga pada keberlanjutan proses tumbuh kembang anak.
Gempa bumi yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 menambah berat situasi masyarakat di sejumlah wilayah NTT.
Berdasarkan data yang disampaikan, gempa berkekuatan Magnitudo 7,7 tersebut berpusat di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.
Sejumlah kabupaten dilaporkan terdampak, dengan kerusakan parah terjadi di beberapa wilayah, antara lain Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Nagekeo, Sikka, dan Ende.
Berdasarkan data terbaru yang disebutkan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban meninggal dunia tercatat 68 orang, sementara 213 orang mengalami luka-luka dan ribuan warga terpaksa mengungsi.
Di tengah kondisi tersebut, perhatian terhadap anak-anak korban bencana dinilai tidak boleh terabaikan. Mereka bukan hanya membutuhkan makanan, pakaian, tempat tinggal, dan layanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan ruang untuk kembali menjalani aktivitas belajar dan bermain.
Hal itu disampaikan Relawan Literasi Kota Kupang, Robertus Fahik, dan Ketua Literasi NTT, Polikarpus Do, melalui pesan WhatsApp kepada media, Selasa (18/8/2026).
Keduanya mengatakan, para pegiat literasi sedang membangun komunikasi dengan relawan di wilayah Flores untuk membantu memastikan anak-anak korban gempa tetap memperoleh hak untuk belajar dan tumbuh secara layak.
Robertus mengatakan, relawan di luar wilayah terdampak saat ini terus berkoordinasi dengan teman-teman yang berada langsung di Flores. Dukungan diberikan sesuai kebutuhan di lapangan.
“Kami sudah koordinasi. Ada teman-teman relawan di Flores yang bergerak langsung, sedangkan kami di luar Flores memberikan donasi dari jauh, dari tempat masing-masing sesuai kebutuhan di sana,” kata Robertus.
Menurut dia, selain bantuan kebutuhan dasar, anak-anak korban gempa membutuhkan ruang yang memungkinkan mereka kembali menjalani aktivitas belajar dan bermain di tengah situasi pascabencana.
Karena itu, Robertus mengusulkan pembukaan ruang literasi di lokasi terdampak gempa. Ruang tersebut dapat menjadi tempat anak-anak membaca, belajar, bermain, sekaligus memperoleh pendampingan.
“Saya kira kita bisa membuka ruang literasi bagi anak-anak korban gempa di sana. Kegiatan ini penting agar anak-anak tetap memiliki ruang untuk membaca, belajar, bermain, dan mendapatkan pendampingan di tengah situasi pascagempa,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak dilakukan oleh satu kelompok saja. Para pegiat literasi dari berbagai daerah dapat dilibatkan secara gotong royong sehingga dukungan kepada anak-anak korban bencana dapat berlangsung lebih luas.
Senada dengan Robertus, Polikarpus Do mengatakan, pihaknya sedang berkoordinasi dengan para pegiat literasi di wilayah Flores NTT secara umum untuk segera bergerak membantu anak-anak yang terdampak bencana.
“Kita sedang koordinasi dengan teman-teman pegiat literasi di wilayah Flores umumnya untuk segera bergerak,” kata Polikarpus.
Menurut dia, gerakan literasi di lokasi bencana tidak dimaksudkan untuk menggantikan bantuan kebutuhan dasar, melainkan melengkapinya. Anak-anak, kata dia, tetap membutuhkan kegiatan yang dapat menjaga keberlangsungan proses belajar sekaligus memberikan rasa aman dan dukungan setelah mengalami situasi bencana.
“Kami berharap dapat membuka ruang literasi bagi anak-anak korban gempa di sana. Kegiatan ini kiranya bisa melibatkan para pegiat literasi, sehingga selain bantuan kebutuhan dasar, anak-anak tetap mendapatkan pendampingan membaca, bermain, belajar, dan dukungan psikososial melalui kegiatan literasi,” ujarnya.
Bagi kedua pegiat literasi tersebut, pemulihan pascagempa tidak semata-mata diukur dari berdirinya kembali rumah atau fasilitas umum. Anak-anak yang terdampak juga perlu mendapat perhatian agar proses pendidikan, bermain, dan perkembangan mereka tidak terputus akibat bencana.
Ruang literasi diharapkan menjadi salah satu bentuk gotong royong masyarakat sipil dalam mendampingi anak-anak korban gempa.
Di ruang sederhana itu, buku, permainan, aktivitas belajar, serta interaksi dengan para relawan dapat menjadi bagian dari upaya mengembalikan suasana kehidupan anak-anak secara perlahan.
Dengan demikian, bantuan pascagempa tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga menyentuh kebutuhan anak untuk tetap belajar, bermain, membaca, dan memperoleh pendampingan selama proses pemulihan berlangsung. (goe).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.



