Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Cinta yang Menyatukan Dua Budaya di Kota Kupang

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Langit Kota Kupang perlahan berubah jingga ketika halaman rumah keluarga besar Mans Betekeneng di Jalan P. Da Cunha, Naikoten Dua, mulai dipenuhi keluarga dan kerabat, Kamis (7/5-2026) sore itu.

Di bawah tenda sederhana yang berdiri di halaman rumah, kursi-kursi ditata rapi. Aroma hidangan dari dapur bercampur dengan suara sapaan hangat para tamu yang datang silih berganti.

Di sudut halaman, sejumlah perempuan tampak sibuk menyiapkan jamuan keluarga. Anak-anak berlarian kecil di antara tamu yang mulai memenuhi tenda. Suasana terasa akrab, tetapi sekaligus sakral.

Sore itu, dua keluarga dari latar budaya berbeda dipertemukan dalam satu prosesi adat peminangan.

Tak lama kemudian, perhatian para tamu tertuju ke arah timur tenda. Rombongan keluarga besar Danijel Devetak perlahan memasuki halaman rumah. Mereka didampingi perwakilan keluarga dan kerabat di Kupang Bapak Linus Lusi serta juru bicara keluarga, Elvis B Toni.

Iringan gong dan tarian adat Lamaholot mengantar langkah rombongan menuju tempat prosesi berlangsung.

Di dalam tenda, keluarga besar calon mempelai perempuan telah menunggu. Marianus Kleden bersama keluarga besar Ileape berdiri menyambut kedatangan rombongan dengan penuh penghormatan. Sebelum memasuki rumah adat keluarga, juru bicara pihak laki-laki terlebih dahulu menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka secara adat.

Yang menarik, dialog adat sore itu tidak hanya disampaikan dalam Bahasa Indonesia, tetapi juga dalam Bahasa Inggris. Pilihan itu dilakukan agar Danijel Devetak, calon mempelai pria berdarah Kroasia, dapat memahami seluruh makna pembicaraan adat yang berlangsung.

Suasana mendadak hening setiap kali tutur adat dilantunkan. Kalimat demi kalimat diucapkan perlahan, penuh penghormatan kepada keluarga dan leluhur. Sesekali terdengar tawa kecil ketika penerjemahan dilakukan, mencairkan suasana tanpa mengurangi kekhidmatan prosesi.

Sore itu, keluarga besar Betekeneng secara resmi menerima proses peminangan Angelika Maria Sangaji Betekeneng, atau yang akrab disapa Enjel Betekeneng, oleh Danijel Devetak.

Prosesi tersebut bukan sekadar pertemuan dua insan yang hendak membangun rumah tangga, melainkan juga perjumpaan dua budaya yang berbeda namun saling menghormati.

Keluarga besar Betekeneng menghadirkan nuansa adat Lamaholot Ileape yang kuat dengan penekanan pada penghormatan terhadap keluarga besar dan leluhur.

Sementara pihak calon mempelai pria menggunakan pendekatan budaya Alor dalam tata cara penyampaian peminangan. Perbedaan itu justru menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna sepanjang prosesi berlangsung.

Karena berasal dari luar negeri, keluarga calon mempelai pria mempercayakan penyampaian adat kepada perwakilan keluarga di Kupang. Elvis B. Toni tampil sebagai juru bicara pihak laki-laki dengan tutur kata yang tenang dan penuh penghormatan. Dari pihak perempuan, Marianus Kleden menjawab setiap penyampaian adat dengan bahasa yang bijak dan meneduhkan suasana.

Di ruang tamu yang dipenuhi keluarga besar kedua belah pihak, suasana beberapa kali berubah haru. Tatapan mata orangtua, senyum keluarga, hingga lantunan tutur adat yang disampaikan bergantian membuat prosesi itu terasa begitu sakral.

Tidak tampak jarak di tengah perbedaan bahasa maupun latar budaya. Yang hadir justru penerimaan dan penghormatan satu sama lain.

Sejumlah tokoh adat Lamaholot Ileape turut hadir dalam prosesi tersebut, di antaranya Pieter Manuk, Daniel Hurek, Lamber Hurek, dan Undangan lain Theo Widodo bersama para tamu lainnya.

Acara dipandu Erens Mahodim yang menjaga seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib namun tetap hangat dalam suasana kekeluargaan.

Setelah seluruh rangkaian adat dan penyerahan simbol keluarga selesai dilakukan di dalam rumah, kedua keluarga kemudian berbaur kembali di bawah tenda utama. Percakapan hangat terdengar di berbagai sudut. Sejumlah tamu saling berjabat tangan dan berbincang, sementara keluarga besar Betekeneng dan Nahak tampak larut dalam sukacita yang sama.

Menjelang malam, prosesi adat yang berlangsung sejak sore itu ditutup dengan misa pemberkatan cincin pertunangan yang dipimpin RD Konrad Takene. Dalam suasana doa yang khusyuk, kedua calon mempelai menerima pemberkatan sebagai tanda keseriusan mereka melangkah menuju kehidupan berkeluarga.

Bagi keluarga yang hadir, sore itu bukan sekadar acara pertunangan. Di sebuah rumah sederhana di Jalan P. Da Cunha, Naikoten Dua, cinta dipertemukan dengan adat, sementara perbedaan budaya justru menjadi jembatan untuk saling mengenal lebih dekat.

Di tengah perbedaan negara, bahasa, dan tradisi, kedua keluarga menunjukkan bahwa cinta tidak selalu harus lahir dari kesamaan. Kadang, cinta tumbuh dari penghormatan, penerimaan, dan kesediaan untuk saling memahami. (goe).

  • Bagikan