KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Paroki Santo Fransiskus Asisi Kolhua, Kota Kupang, menggelar Expo Panggilan selama tiga hari, di bawah Tema “Mendengar Suara Tuhan di Tengah Arus Media Digital”, mulai Rabu (29/4/2026) hingga Jumat (1/5/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Minggu Panggilan yang dirayakan Gereja Katolik sejagat.
Expo akan ditutup pada Minggu (3/5/2026) melalui perayaan misa yang dipimpin langsung Uskup Agung Kupang pada misa kedua di paroki tersebut.
Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Asisten I Sekretariat Daerah Kota Kupang, Hengki Malelak, yang hadir mewakili Pemerintah Kota Kupang.
Pembukaan diawali dengan pawai jalan kaki mengelilingi wilayah paroki dan berakhir di halaman Gereja Santo Fransiskus Asisi Kolhua, lokasi utama pelaksanaan expo.
Sedikitnya 14 komunitas hidup bakti ambil bagian dalam kegiatan ini, menghadirkan beragam karisma dan bentuk panggilan dalam Gereja Katolik kepada umat, khususnya kaum muda.
Ketua panitia, Frater David, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas keterlibatan berbagai komunitas religius dalam Expo Panggilan tahun ini.
Ia menyebut kehadiran mereka sebagai tanda nyata Gereja terus hidup, beragam, dan bertumbuh dalam panggilan.
“Kalau boleh jujur, panitia sempat berpikir: ini sebenarnya expo atau reuni besar orang-orang yang sudah berani mengatakan ‘ya’ kepada Tuhan. Hari ini kita semua menjadi saksi bahwa panggilan itu nyata, hidup di tengah kita,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tema yang diangkat tahun ini adalah “Mendengar Suara Tuhan di Tengah Arus Media Digital.” Tema tersebut mengajak umat untuk sejenak berhenti dari hiruk-pikuk dunia digital yang kerap membuat manusia kehilangan kepekaan terhadap suara hati dan panggilan Tuhan.
“Expo ini bukan hanya untuk dilihat, tetapi untuk dialami. Bukan sekadar dikunjungi, tetapi untuk direnungkan. Semoga menjadi titik awal bagi seseorang untuk berani berkata: ‘Tuhan, ini aku, utuslah aku,’” kata Frater David.
Sementara itu, Pastor Paroki Santo Fransiskus Asisi Kolhua, RD Longginus Bone, dalam sambutannya mengingatkan bahwa di tengah derasnya arus informasi dan hiburan digital, manusia sering kali semakin sulit mendengarkan suara Tuhan yang bersifat pribadi dan hadir dalam keheningan hati.
“Banyak suara yang bising, tetapi hanya satu suara yang benar-benar menyentuh dan memilih kita. Itulah suara Tuhan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Expo Panggilan bukanlah ajang untuk memamerkan diri, melainkan ruang untuk memuliakan Tuhan yang berkarya dalam setiap panggilan hidup. Menurut dia, kesetiaan dalam panggilan bukanlah keputusan sesaat, tetapi komitmen seumur hidup.
“Dalam dunia yang semakin bising, suara Tuhan justru harus semakin kita dengarkan, bukan dikalahkan oleh suara dunia,” katanya.
RD Longginus juga menyampaikan apresiasi kepada Uskup Agung Kupang yang telah memberikan izin sekaligus berkenan memimpin misa penutupan.
Ia menambahkan, kegiatan ini merupakan penyelenggaraan ketiga, yang menunjukkan bahwa semangat panggilan terus hidup dan berkembang di tengah umat.
Apresiasi juga disampaikan kepada Pemerintah Kota Kupang atas dukungan terhadap kegiatan tersebut, termasuk keterlibatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang turut meramaikan expo.
Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal Keuskupan Agung Kupang, RD Erik Kfun, mengatakan bahwa meskipun ajakan untuk mengenal panggilan kerap dianggap sebagai “paksaan rohani”, namun yang ditawarkan sesungguhnya adalah sukacita Injil dan kekayaan karisma hidup bakti.
“Expo ini bukan sekadar pameran atau kegiatan seremonial, tetapi ruang perjumpaan iman. Di sini orang bisa melihat, mendengar, dan merasakan langsung keindahan panggilan hidup sebagai imam, suster, bruder, maupun frater,” ujarnya.
Ia menambahkan, di tengah dunia yang semakin bising oleh teknologi dan gaya hidup modern, Expo Panggilan menjadi sarana penting untuk memperkenalkan bahwa hidup membiara tetap relevan, membahagiakan, dan penuh makna.
Sementara itu, Asisten I Setda Kota Kupang Hengki Malelak dalam sambutannya menegaskan bahwa Expo Panggilan merupakan bagian dari upaya membangun masa depan generasi muda.
Ia juga menyoroti tantangan serius yang dihadapi kaum muda, termasuk dampak negatif media digital.
Menurut dia, berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS Kota Kupang, jumlah penderita HIV/AIDS telah mencapai lebih dari 5.000 orang, dengan 229 kasus baru sepanjang 2025, yang sebagian besar terjadi pada kalangan remaja.
“Ini menjadi alarm bagi kita semua agar lebih serius membimbing generasi muda, tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki arah hidup dan nilai moral yang kuat,” katanya.
Pemerintah Kota Kupang, lanjut Malelak, mendukung penuh kegiatan yang mendorong tumbuhnya panggilan hidup.
Expo ini diharapkan menjadi ruang refleksi bagi kaum muda untuk membuka hati dan berani menjawab panggilan Tuhan di tengah tantangan zaman.
Melalui kegiatan ini, umat diharapkan semakin terbuka untuk mendengarkan dan menanggapi panggilan Tuhan dalam kehidupan masing-masing. (goe).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




