KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Rencana kegiatan olahraga tradisional bersama warga SD Katolik Santo Yosep 2 Kupang yang sedianya digelar pada Jumat pagi (9/1/2026) terpaksa dialihkan. Hujan yang mengguyur Kota Kupang sejak pagi hari membuat aktivitas luar ruang tidak memungkinkan untuk dilaksanakan.
Sebagai gantinya, pihak sekolah menginisiasi diskusi bersama yang berlangsung di ruang kerja Kepala Sekolah SD Katolik Santo Yosep 2 Kupang. Diskusi tersebut menghadirkan Kepala Sekolah Agung Riwu, Ketua TBAM NTT Polikarpus Do, serta Ketua Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) Kota Kupang, Goris Takene.
Kepala SD Katolik Santo Yosep 2 Kupang, Agung Riwu, mengatakan perubahan agenda ini justru menjadi momentum penting untuk memperdalam pemahaman tentang nilai edukatif permainan rakyat dan olahraga tradisional bagi anak-anak.
“Cuaca memang tidak mendukung, tetapi semangat kami untuk memperkenalkan permainan rakyat kepada anak-anak tidak surut. Diskusi ini sangat penting untuk menyamakan persepsi dan menyusun langkah konkret agar permainan tradisional tetap hidup dan terintegrasi dalam kegiatan sekolah,” ujar Agung Riwu.
Ia menambahkan, sekolah berkomitmen menjadikan permainan tradisional sebagai bagian dari pendidikan karakter, yang menanamkan nilai kebersamaan, sportivitas, dan kecintaan terhadap budaya lokal sejak usia dini.
Sementara itu, Ketua TBAM NTT, Polikarpus Do, menilai langkah SD Katolik Santo Yosep 2 Kupang sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap pelestarian budaya daerah di tengah derasnya pengaruh permainan modern dan digital.
“Permainan rakyat bukan sekadar hiburan, tetapi sarat nilai budaya dan pembentukan karakter. Anak-anak belajar bekerja sama, jujur, dan menghargai sesama. Inisiatif sekolah ini patut diapresiasi dan didukung,” ungkap Polikarpus Do.
Ia berharap kolaborasi antara sekolah, komunitas budaya, dan lembaga terkait terus diperkuat agar permainan tradisional tidak hilang ditelan zaman.
Hal senada disampaikan Ketua KPOTI Kota Kupang, Goris Takene, menegaskan pentingnya peran sekolah sebagai ruang strategis dalam menghidupkan kembali olahraga tradisional.
“Sekolah adalah tempat paling efektif untuk mewariskan permainan rakyat. KPOTI siap mendampingi dan memberikan edukasi agar olahraga tradisional dapat dipraktikkan secara berkelanjutan, baik melalui kegiatan rutin maupun event khusus,” kata Goris Takene.
Menurutnya, meski kegiatan fisik hari ini tertunda akibat hujan, diskusi yang berlangsung justru menjadi fondasi kuat untuk pelaksanaan kegiatan olahraga tradisional yang lebih terencana di waktu mendatang.
Diskusi tersebut ditutup dengan kesepakatan untuk menjadwalkan ulang kegiatan olahraga tradisional bersama siswa dan warga sekolah pada kesempatan berikutnya, dengan melibatkan berbagai pihak guna memperkaya pengalaman belajar anak-anak sekaligus melestarikan warisan budaya bangsa. (Sintus).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




