Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Koor Etnis Malaka Semarakkan Pesta Pelindung Stasi Santo Agustinus Bello

Paduan koor etnik Malaka bersama para imam usai Misa Pesta Pelindung Stasi St. Agustinus Bello, Keuskupan Agung Kupang.

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Sore itu, jalan kecil menuju Kapela Santo Agustinus Bello penuh sesak oleh umat yang datang merayakan pesta pelindung stasi.

Kapela mungil di Bello, Kota Kupang, tak lagi mampu menampung ratusan umat yang larut dalam doa dan kidung.

Dari altar hingga jalan depan kapela, suasana syukur kian hidup ketika koor etnis Malaka mulai mengalunkan lagu-lagu liturgi dalam bahasa Tetun Malaka.

Dipimpin Erens Mahodim akrab disapa Kiik Erens paduan suara ini tampil berbeda. Mereka bukan sekadar bernyanyi, melainkan menghadirkan nuansa budaya Malaka ke dalam liturgi.

Busana adat Malaka dipadu baju putih, iringan tebe bot dan tebe kiik, menjadikan misa sore hingga malam itu terasa semarak sekaligus khidmat.

Bagi Johni Manehat, Ketua KUB Santa Maria Virgo Stasi Santo Agustinus Bello, penampilan ini bukan sekadar hiburan.

Ia menyebutnya pengalaman iman yang indah. “Belu katak, tebe lai, foti ain lai, foin fila toba be, no hemu, hemu lai, no ha, ha lai, no surisu, halai ona be. Salam sukacita, salut, luar biasa elok dan berkesan misa kita semalam bersama saudara-saudari Malaka. Lagu-lagu dalam bahasa Tetun terik yang dipadu instrumen tradisional sungguh menghadirkan rasa syukur mendalam. Salve! Tuhan memberkati,” tutur Johni dalam sebuah postingan WA Grup.

Pastor Paroki Santo Fransiskus dari Assisi Kolhua, RD Dus Bone, yang memimpin perayaan bersama tiga imam konselebran RD Toni Kobesi, RD Yoakim Konis, dan RD Rio Kanaf turut memberikan apresiasi.

Menurutnya, kehadiran koor etnis Malaka menjadi simbol keterbukaan iman yang menyapa, bukan menutup diri.

“Liturgi bukan hanya doa, tetapi juga perjumpaan budaya. Malam ini kita merasakan bahwa iman dan tradisi bisa saling menguatkan. Apa yang dibawakan saudara-saudari Malaka menjadi bukti bahwa kekayaan lokal bisa dipersembahkan bagi Tuhan,” ujar RD Dus Bone.

Suasana syukur yang berpadu dengan warna budaya itu meninggalkan kesan mendalam. Di Bello, pesta pelindung stasi kali ini tidak hanya dirayakan dengan doa dan nyanyian. Tetapi juga dengan perayaan identitas bahwa iman Katolik mampu merangkul kearifan lokal, dan justru di situlah kekuatannya. (goe).

  • Bagikan