OELAMASI, FLOBAMORA-SPOT — Kupang tidak selalu jadi nama pertama yang terlintas saat kita bicara tentang pertanian. Selama ini, ia lebih dikenal karena cuaca yang keras, tanah yang kering, dan tantangan alam yang memaksa. Tapi sesuatu sedang berubah. Pelan, tapi pasti. Kupang sedang bermimpi—dan kali ini, mimpinya bukan di awan, tapi di ladang.
Saat Bupati Yosef Lede dan Wakil Bupati Aurum O. Titu Eki turun langsung ke sawah Desa Pantulan untuk melakukan panen raya perdana masa jabatan mereka, ada pesan kuat yang ingin disampaikan: Kupang bisa jadi lumbung pangan, bukan hanya jadi penonton dalam peta pangan nasional.
Langkah mereka bukan sekadar seremonial. Di balik panen itu, ada rencana besar dan kerja nyata. Pembukaan lahan baru, penyerahan sarana prasarana pertanian, hingga pemberdayaan petani dan pemuda desa adalah sinyal bahwa program ini bukan sekadar “proyek,” tapi fondasi jangka panjang.
Bupati Yosef bahkan bicara lantang soal swasembada pangan dan keterlibatan langsung anak muda. Ia ingin setiap desa membentuk Koperasi Merah Putih dan menjadikan Karang Taruna sebagai pengelola Dana Ketahanan Pangan Desa. Ini bukan retorika kosong. Ini langkah konkrit untuk menyiapkan generasi muda yang tahu cara menanam, mengelola, dan menikmati hasilnya.
Dari angka-angka, kita bisa optimis: kebutuhan beras 55.000 ton, tahun lalu masih defisit 5.000 ton, tapi kini peluang besar terbuka untuk surplus. Apalagi, pemerintah pusat di bawah Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan mengalokasikan Rp 450 miliar khusus untuk Kabupaten Kupang. Artinya, pangan sehat bukan lagi mimpi—asal bahan bakunya tersedia dan petani lokal berdaya.
Yang paling menyentuh dari semua ini? Prosesnya sunyi, tapi penuh makna. Tidak banyak gembar-gembor, tidak viral di media sosial. Tapi dampaknya nyata. Anak-anak mulai sekolah dengan perut kenyang. Petani mulai menanam dengan harapan, bukan sekadar rutinitas. Dan pemuda mulai kembali ke desa bukan karena terpaksa, tapi karena ada masa depan yang menanti.
Kupang tidak berubah karena keajaiban. Kupang berubah karena orang-orangnya memilih untuk bekerja.
Yosef dan Aurum sedang menanam mimpi besar di ladang-ladang kecil. Dan siapa tahu, di tahun-tahun ke depan, kita tak lagi menyebut Kupang sebagai tanah kering, tapi sebagai lumbung pangan timur Indonesia. Bukankah itu mimpi yang layak diperjuangkan? (Yoseph Bataona (Sekretaris SMSI NTT/ sintus).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




