KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Ketua Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia Nusa Tenggara Timur Krisantus Boro yang akrab disapa Sandro Wanga menegaskan pentingnya sekolah menjadi pusat pelestarian permainan rakyat dan olahraga tradisional.
Melalui pendidikan, generasi muda tidak hanya diperkenalkan pada warisan budaya, tetapi juga memperoleh manfaat bagi perkembangan karakter, kesehatan, dan kemampuan sosial.
Hal itu disampaikan Sandro Wanga dalam dialog interaktif Radio Republik Indonesia Kupang Pro 4, Sabtu (27/6/2026), bertema “Melestarikan Permainan Tradisional di Sekolah”.
Dialog tersebut menghadirkan Kepala SDK Yaswari Niki-Niki Sr. Maria Marselina Lodan, RVM, dan dipandu penyiar Kristin Ngengu.
Menurut Sandro, sekolah merupakan ruang yang paling strategis untuk mengembangkan permainan rakyat melalui pembentukan kelas permainan tradisional maupun penyelenggaraan festival permainan tradisional secara berkala.
Langkah ini dinilai penting agar permainan warisan leluhur tidak semakin tergerus oleh perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup anak-anak.
“Permainan tradisional bukan sekadar hiburan, tetapi memiliki nilai pendidikan yang sangat besar. Anak-anak belajar mengembangkan kemampuan motorik, membangun sportivitas, meningkatkan konsentrasi, serta membentuk ketahanan mental dan psikologis,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berbagai permainan rakyat juga mengajarkan kerja sama, kepatuhan terhadap aturan, kemampuan memecahkan masalah, serta membangun interaksi sosial yang sehat di antara peserta didik. Sebagai contoh, permainan lompat tali melatih keseimbangan, koordinasi gerak, fokus, keberanian, dan kepercayaan diri.
Sementara itu, Kepala SDK Yaswari Niki-Niki, Sr. Maria Marselina Lodan, RVM, menilai permainan tradisional dan olahraga rakyat khas Amanuban Tengah merupakan bagian penting dari proses pendidikan yang tidak boleh ditinggalkan.
Menurutnya, permainan tradisional bukan sekadar warisan masa lalu yang bersifat statis, melainkan media pembentukan karakter yang dinamis untuk mempersiapkan generasi masa depan.
“Di tengah gempuran arus digitalisasi, Teras Main hadir sebagai oase yang mengembalikan hakikat anak-anak Timor Tengah Selatan untuk bergerak, bersosialisasi, dan tertawa bersama di alam terbuka,” ujarnya.
Sr. Marselina mengatakan, menjaga permainan tradisional tetap hidup berarti menjaga denyut nadi identitas budaya masyarakat Timor. Melalui permainan rakyat, sekolah dapat melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga tangguh secara mental, sehat secara fisik, serta memiliki kebanggaan terhadap budaya daerahnya.
Karena itu, pihaknya berkomitmen mengembangkan kelas permainan tradisional di lingkungan sekolah. Namun, upaya tersebut masih membutuhkan dukungan sarana dan prasarana, terutama pembangunan Teras Main sebagai ruang belajar dan bermain berbasis permainan rakyat.
Untuk merealisasikan program tersebut, SDK Yaswari Niki-Niki akan memperkuat kerja sama dengan KPOTI NTT. Kolaborasi itu diharapkan dapat menghadirkan pendampingan, pelatihan, serta pengembangan fasilitas sehingga permainan tradisional dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran yang berkelanjutan.
Baik KPOTI NTT maupun SDK Yaswari Niki-Niki sepakat, pengembangan kelas dan festival permainan tradisional di sekolah merupakan langkah strategis untuk melestarikan warisan budaya sekaligus memperkuat pendidikan karakter.
Permainan rakyat tidak lagi dipandang sekadar hiburan, tetapi menjadi media pembelajaran yang membentuk peserta didik yang sehat, kreatif, berkarakter, dan bangga terhadap budaya lokal. (goe).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




