KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Di tengah kesibukannya sebagai guru, Yabes Bia (38) tetap menyisihkan waktu untuk menggerakkan kegiatan literasi bagi anak-anak di desanya.
Bagi Yabes, mengajar di sekolah saja belum cukup. Ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk turut membangun budaya membaca di lingkungan tempat tinggalnya.
Pria kelahiran Santian, 14 Agustus 1988 ini saat ini bertugas sebagai guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di SMP Negeri Matani, Kecamatan Kualin, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Di luar aktivitas formal sebagai pendidik, ia juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial, salah satunya dengan mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Apostolos Toineke di Kecamatan Kualin.
Menurut Yabes, keterlibatannya di dunia pendidikan formal dan informal bukanlah sesuatu yang sulit dijalani. Waktu mengajar yang berakhir sekitar pukul 14.00 Wita memberinya kesempatan untuk tetap berkarya di tengah masyarakat.
“Setelah pulang sekolah, masih ada waktu yang cukup untuk membantu anak-anak di lingkungan sekitar. Yang paling penting adalah bagaimana membangun minat mereka terhadap buku terlebih dahulu. Jika minat itu sudah tumbuh, maka mereka akan dengan sendirinya tertarik untuk membaca,” ujarnya.
Kepedulian terhadap rendahnya tingkat literasi anak-anak di desa menjadi alasan utama dirinya mendirikan TBM Apostolos Toineke.
Ia melihat masih banyak anak yang belum memiliki akses memadai terhadap bahan bacaan. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh letak wilayah Toineke yang kerap dilanda banjir sehingga berbagai aktivitas pendidikan sering menghadapi tantangan.
“Keinginan membuka TBM lahir dari kepedulian terhadap literasi anak-anak desa yang masih rendah. Saya berharap kehadiran taman bacaan ini dapat menjadi ruang belajar sekaligus ruang tumbuh bagi mereka,” katanya.
Sebagai anak keempat dari empat bersaudara, Yabes meyakini, pendidikan merupakan jalan penting untuk mengubah masa depan seseorang. Keyakinan itu pula yang mendorongnya untuk kembali mengabdi di kampung halaman TTS setelah menyelesaikan pendidikan tinggi.
Alumni Universitas PGRI Kupang tahun 2010 tersebut memilih pulang ke daerah asalnya dan mendedikasikan diri bagi dunia pendidikan.
Baginya, keberhasilan tidak selalu diukur dari sejauh mana seseorang merantau, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat.
Melalui profesinya sebagai guru dan aktivitasnya sebagai pegiat literasi, Yabes terus berupaya menanamkan kecintaan terhadap buku kepada generasi muda.
Ia percaya, perubahan besar dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, yakni membaca.
Di tengah berbagai keterbatasan yang masih dihadapi masyarakat pedesaan, Yabes Bia hadir sebagai sosok yang tidak hanya mengajar di ruang kelas, tetapi juga menjadi penggerak literasi yang menyalakan harapan bagi anak-anak di Toineke.
Dengan semangat pengabdian yang konsisten, ia membuktikan bahwa pendidikan dapat dibangun melalui kerja nyata, kepedulian, dan ketulusan untuk melayani sesama. (goe).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




