Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Matheos Anin, Pengabdi Senyap Radio Tirilolok, Tutup Usia

Matheos Anin, Mantan karyawan, Radio Tirilolok Swara Verbum.

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Duka menyelimuti keluarga besar Radio Tirilolok Suara Verbum atas wafatnya Matheos Anin, sosok pekerja sederhana yang dikenal setia mengabdi selama puluhan tahun di radio tersebut.

Matheos Anin meninggal dunia di Kupang pada Rabu (27/5/2026) setelah mengalami sakit akibat faktor usia.

Almarhum tutup usia pada umur 75 tahun. Ia lahir di Bonleu, Timor Tengah Selatan, pada 26 Januari 1951.

Semasa hidupnya, Matheos dikenal sebagai pribadi pekerja keras dan rendah hati. Sebelum pensiun pada 2011, ia mengabdikan dirinya di Radio Tirilolok Suara Verbum dan terakhir menjalankan tugas sebagai office boy sekaligus sebagai driver mobil operasional Radio Tirilolok.

Meski bekerja jauh dari sorotan, pengabdiannya menjadi bagian penting dalam perjalanan radio tersebut.
Bagi rekan-rekan kerja dan keluarga, Matheos merupakan sosok yang tidak banyak berbicara, tetapi memiliki kepedulian besar terhadap orang-orang di sekitarnya.

Kesederhanaannya justru meninggalkan kesan mendalam bagi banyak orang yang pernah mengenalnya.

Beberapa hari sebelum meninggal dunia, almarhum sempat menyampaikan pesan terakhir kepada sang istri agar hubungan keluarga tetap dijaga dengan baik.

“Baik-baik dengan anak-anak dan cucu-cucu,” demikian pesan sederhana yang kini menjadi kenangan mendalam bagi keluarga.

Putri tertua almarhum, Eti Anin, mengatakan ayahnya merupakan sosok sederhana yang selalu menunjukkan kasih sayang melalui tanggung jawab dan kerja keras.

“Bapa orang sederhana. Tidak banyak bicara, tetapi selalu bekerja untuk keluarga. Kami kehilangan sosok yang selama ini menjadi teladan tentang kerja keras, kesabaran, dan kesetiaan,” ujar Eti dengan mata berkaca-kaca.

Eti mengenang ayahnya sebagai pribadi yang selalu mengutamakan kebersamaan keluarga dan menjaga hubungan baik dengan semua orang.
“Pesan terakhir bapa supaya kami tetap saling menjaga sebagai saudara dan tetap menghormati mama. Itu yang akan kami pegang terus,” katanya.

Kehidupan Matheos Anin mungkin jauh dari gemerlap perhatian publik. Namun, kesetiaan dan pengabdiannya selama puluhan tahun menjadi jejak yang tidak mudah dilupakan, baik oleh keluarga maupun oleh mereka yang pernah bekerja bersama dirinya.

Kepergian Matheos meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, dan orang-orang yang mengenalnya sebagai pribadi tulus dalam bekerja serta hidup bersahaja. (goe).

  • Bagikan