Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

SMP Negeri 14 Kupang Perketat Pengawasan Cegah Coret Seragam Saat Kelulusan

Kepala SMPN 14 Kota Kupang Merpati Oematan, S. Pd.

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — SMP Negeri 14 Kota Kupang memperketat pengawasan menjelang pengumuman kelulusan siswa kelas IX tahun ajaran 2025/2026 guna mencegah aksi coret-coret seragam dan konvoi kendaraan yang kerap mewarnai perayaan kelulusan sekolah.

Kepala SMP Negeri 14 Kota Kupang, Merpati Oematan,S.Pd mengatakan, sekolah telah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif agar momentum kelulusan berlangsung tertib, aman, dan bermakna bagi para siswa.
Pengumuman kelulusan akan dilakukan secara luring dengan pengawasan ketat dari pihak sekolah dan orang tua.

“Kami sudah mengingatkan seluruh siswa agar tidak melakukan coret-coret seragam maupun konvoi kendaraan. Sekolah ingin perayaan kelulusan dilakukan secara sederhana dan bermartabat,” kata Merpati di ruang kerjanya, Rabu (13/5/2026).

Sebagai langkah pencegahan, sekolah mewajibkan siswa mengenakan pakaian adat, atau busana bebas rapi saat menerima pengumuman kelulusan.

Kebijakan tersebut diterapkan agar seragam sekolah tidak dijadikan sasaran vandalisme.
Selain itu, setiap siswa kelas IX diwajibkan hadir bersama orang tua saat menerima amplop pengumuman kelulusan.

Sekolah juga mengimbau para siswa mengumpulkan seragam yang masih layak pakai untuk disumbangkan kepada siswa lain yang membutuhkan.

Menurut Merpati, program donasi seragam menjadi bagian dari pendidikan karakter sekaligus upaya menanamkan nilai kepedulian sosial kepada peserta didik.

“Daripada dirusak dengan coretan atau cat semprot, lebih baik seragam itu dimanfaatkan untuk membantu sesama,” ujarnya.

Pihak sekolah menilai tradisi coret-coret seragam kerap berkembang menjadi euforia berlebihan yang memicu konvoi kendaraan, kemacetan, hingga potensi tawuran dan kecelakaan lalu lintas.

Karena itu, sekolah memilih mengedepankan pendekatan pembinaan dan pengawasan sejak dini.

Dalam pelaksanaannya, sekolah melibatkan guru, wali kelas, komite sekolah, dan orang tua untuk memantau aktivitas siswa menjelang pengumuman kelulusan. Pihak sekolah juga berkoordinasi dengan aparat kepolisian setempat guna mengantisipasi kerumunan maupun konvoi liar di jalan raya.

Sosialisasi larangan coret-coret dan konvoi dilakukan melalui surat edaran, media sosial sekolah, serta penyampaian langsung oleh wali kelas kepada siswa dan orang tua sejak awal Mei.

Merpati menegaskan, momen kelulusan bukan sekadar seremoni formalitas, melainkan ruang pembelajaran karakter dan penghormatan terhadap nilai budaya serta keluarga.

Menurut dia, penggunaan pakaian adat pada hari kelulusan menjadi simbol penghormatan terhadap akar budaya dan penanda kedewasaan siswa. Kehadiran orang tua mendampingi anak saat menerima pengumuman kelulusan juga diharapkan mempererat hubungan emosional antara keluarga dan sekolah.

“Prestasi akademik mungkin akan terlupakan seiring waktu, tetapi kenangan tentang restu orang tua, bimbingan guru, dan kebersamaan dalam balutan nilai budaya akan menjadi bekal karakter bagi masa depan siswa,” katanya.

Merpati berharap seluruh siswa dapat menjaga nama baik sekolah dan menjadikan kelulusan sebagai momentum mempersiapkan diri menuju jenjang pendidikan berikutnya.

“Kelulusan harus dirayakan dengan rasa syukur dan sikap dewasa. Kami ingin siswa SMP Negeri 14 menunjukkan karakter yang baik di tengah masyarakat,” ujarnya. (goe).

  • Bagikan