KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Jalan hidup Sr Patrisia CJD (Suprasetiyati) tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Lahir dan dibesarkan dalam keluarga Muslim yang taat, dengan latar belakang militer dan lingkungan yang religius, ia justru menemukan panggilannya dalam kehidupan membiara di Gereja Katolik.
Perempuan kelahiran Magelang, 20 Desember 1965 itu merupakan anak keenam dari delapan bersaudara. Ia tumbuh di Kelurahan Rejowinangun Utara, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, dalam keluarga besar yang seluruhnya memeluk Islam.
“Waktu kecil, saya tidak tahu apa itu gereja, apa itu Katolik,” ujarnya mengenang.
Perjumpaan pertamanya dengan iman Katolik terjadi secara sederhana, melalui relasi keluarga. Seorang tantenya yang menikah dengan pria Katolik memperkenalkannya pada pengalaman baru, termasuk ikut ke gereja saat masih duduk di bangku sekolah dasar.
Dari pengalaman yang tampak sederhana itu, benih ketertarikan mulai tumbuh. Ia mengaku merasakan kenyamanan yang sulit dijelaskan setiap kali berada di gereja.
Namun, perjalanan menuju keputusan besar itu tidak mudah.
Memasuki usia remaja, ketertarikannya pada kehidupan religius semakin kuat. Bahkan, ia mulai diam-diam mengikuti kegiatan gereja dan katekumen tanpa sepengetahuan kedua orang tua. Ketika hal itu diketahui, penolakan keras pun datang.
“Saya dihajar, dilarang keras,” tuturnya dengan mata berkaca mengenang masa itu kepada media ini Jumat (01/5-2026).
Tekanan keluarga tidak hanya berhenti di situ. Ia juga sempat dijodohkan oleh orang tuanya dan mengalami perundungan dari teman-teman sekolah saat SMA. Namun, semua itu tidak memadamkan panggilan yang ia rasakan.
“Semua itu saya serahkan sebagai misteri Tuhan,” katanya.
Setelah lulus sekolah, keberanian untuk menentukan jalan hidup mulai tumbuh. Ia memutuskan untuk dibaptis, meski harus menghadapi kemarahan sang ayah yang adalah salah satu anggota aktif TNI kala itu.
Dengan penuh ketakutan, ia meminta tanda tangan sebagai syarat administrasi untuk maju ditahbiskan sebagai anggota umat Katolik.
Respons ayahnya keras. Namun pada akhirnya, tanda tangan itu diberikan.
“Bapak bilang, ‘Terserah kamu,’” kenangnya.
Ia dibaptis seorang diri, tanpa kehadiran keluarga.
Perjalanan iman itu tidak berhenti di sana. Ia mulai aktif dalam kehidupan menggereja, sambil bekerja di salah satu toko selepas SMA.
Dalam proses itu, panggilan untuk menjadi biarawati kembali menguat.
Langkah menuju biara kembali menghadirkan ujian. Penolakan keluarga semakin keras, bahkan ia dituduh sebagai penyebab berpindahnya keyakinan kakak dan iparnya yang kemudian mengikuti jejaknya menjadi Katolik.
“Saya dianggap biang keladi,” ujarnya.
Namun ia memilih diam.
“Lebih baik saya mengalah daripada terjadi konflik,” katanya.
Dalam keheningan dan doa, ia terus melangkah. Hingga suatu hari, kabar yang dinantikan itu datang: ia diterima masuk biara.
Seperti sebelumnya, ia kembali harus meminta restu orang tua. Dan penolakanpun kembali terjadi, disertai kemarahan dan kata-kata yang melukai dari sang ayah. Namun sekali lagi, ayahnya menandatangani surat persetujuan masuk biara.
“Terserah kamu, ikut kehendakmu sendiri,” kata sang ayah saat itu.
Ia pun berangkat, diantar oleh atasannya di tempat kerja, tanpa keluarga.
Memasuki masa pembinaan sebagai pra-postulan hingga postulan, ia menjalani kehidupan yang penuh disiplin dan kesunyian. Komunikasi dengan keluarga terbatas. Bahkan, surat-surat yang ia kirim sering tak berbalas.
Kesendirian menjadi bagian dari proses.
Namun, titik balik terjadi saat ia mendapat izin pulang untuk menghadiri peringatan seribu hari wafat ibunya. Kepulangannya yang tak terduga menjadi momen yang mengubah segalanya.
Ayahnya yang selama ini menolak, tiba-tiba memeluknya.
“Kami sama-sama menangis,” ujarnya.
Sejak saat itu, perlahan penerimaan tumbuh dalam keluarga. Relasi yang sempat retak mulai dipulihkan.
Perubahan itu semakin nyata ketika ayahnya hadir dalam momen penting hidupnya: pengikraran kaul sementara. Meski perjalanan menuju lokasi sempat terhambat, sang ayah tetap datang.
“Itu sangat berarti bagi saya,” katanya.
Dalam perjalanan berikutnya, penerimaan keluarga semakin terbuka. Bahkan keluarga besar yang sebelumnya menolak, termasuk sosok yang disegani sebagai alim ulama yakni kakak dari ayahnya yang sebelumnya menolaknya, akhirnya menerima kehadirannya.
Kini, Sr Patrisia CJD menjalani hidup sebagai biarawati dalam Kongregasi CJD.
Ia pernah menjalani pelayanan di Bekasi, kemudian di Toraja, dan saat ini berkarya di Kupang.
Perjalanan panggilannya, menurut dia, bukanlah sesuatu yang instan.
“Kurang lebih 15 tahun prosesnya,” ujarnya.
Ia melihat seluruh perjalanan hidupnya sebagai bagian dari karya Tuhan, sebuah proses panjang yang membentuk, menguji, sekaligus meneguhkan.
“Kisah hidup saya ada dalam Kitab Suci. Tuhan memanggil, dan saya hanya menjawab,” katanya.
Bagi Sr Patrisia, panggilan hidup adalah misteri yang berjalan melalui proses. Jalan itu tidak selalu mudah, tetapi selalu menemukan arah bagi mereka yang setia melangkah.
“Mudah-mudahan saya tetap setia sampai akhir,” ujarnya. (goe).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




