KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Pagi itu, mentari belum terlalu tinggi ketika halaman Paroki Santo Fransiskus dari Asisi Kolhua mulai dipadati umat.
Dari berbagai Kelompok Umat Basis (KUB), mereka datang berjalan kaki, sebagian bersama keluarga dengan kendaraan, sebagian lagi berkelompok sambil membawa buku doa.
Suasana hening perlahan menyelimuti, semua yang hadir tengah mempersiapkan hati untuk sebuah permenungan panjang.
Di tengah halaman gereja, sekelompok Orang Muda Katolik (OMK) bersiap melakonkan jalan salib dari penangkapan Yesus hingga penyaliban.
Mereka bukan sekadar tampil, melainkan menghadirkan kembali kisah sengsara Yesus Kristus dalam sebuah jalan salib hidup, sebuah peragaan yang bukan hanya dilihat, tetapi dirasakan.
Ketika ibadat dimulai, langkah demi langkah pun ditapaki. Dari perhentian pertama (satu) hingga perhentian ke empat belas, umat mengikutinya penuh khusuk.
Doa-doa dilantunkan, lagu-lagu kisah sengsara penyalipan mengalun lirih, berpadu dengan adegan-adegan yang diperankan OMK, tentang pengkhianatan, penderitaan, hingga wafat di kayu salib.
Tak sedikit umat yang terdiam lama di setiap perhentian, menghayati prosesi penyalipan.
Ada yang menunduk, ada pula yang menitikkan air mata. Jalan salib pagi itu bukan sekadar ritual, melainkan pengalaman batin yang mengajak umat masuk dalam kisah penderitaan Kristus.
Para imam dan pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP) pun larut dalam arus permenungan. Tidak ada sekat. Semua berjalan bersama, menyatu dalam doa dan langkah, dari pagi hingga menjelang siang.
Ketua DPP Paroki Kolhua, Adri Ceme, menyebut jalan salib hidup ini sebagai ruang refleksi iman yang nyata.
“Ini bukan hanya mengenang peristiwa, tetapi mengajak umat masuk dalam pengalaman kasih dan pengorbanan Yesus,” kata dia Jumat (3/4/26).
Bagi OMK, peran yang mereka bawakan bukan sekadar akting. Ada proses panjang di baliknya, latihan, penghayatan, bahkan pergulatan batin untuk memahami peran yang dimainkan. Dari sanalah, iman tidak hanya diajarkan, tetapi dialami.
Ambros Ngada, salah seorang umat, mengaku tersentuh.
“Melihat langsung peragaan seperti ini membuat kami lebih merasakan penderitaan Yesus. Ada pesan kuat untuk tetap setia dalam iman,” ujarnya pelan.
Waktu berjalan tanpa terasa. Matahari semakin tinggi, tetapi umat tetap bertahan. Tidak ada yang beranjak. Mereka mengikuti seluruh rangkaian hingga selesai, seakan enggan meninggalkan suasana yang telah membawa mereka begitu dekat dengan makna pengorbanan.
Di akhir prosesi, yang tersisa bukan hanya kelelahan fisik, tetapi juga keheningan batin. Jalan salib hidup itu meninggalkan jejak, tentang kasih yang rela berkorban, tentang iman yang diuji dalam penderitaan, dan tentang harapan yang tak pernah padam.
Di Paroki Kolhua, pagi hingga siang itu menjadi lebih dari sekadar ibadat. Ia menjelma menjadi perjalanan iman, menapaki derita, sekaligus menemukan makna. (goe).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




