Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Romo Leo Mali: Komunitas Basis Gerejawi Harus Menjadi Terang dan Garam bagi Sesama

Gedung Kapela Stasi Bello

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Komunitas Umat Basis (KUB) atau Komunitas Basis Gerejawi tidak boleh berhenti sebatas ruang berkumpul dan berdoa.

Lebih dari itu, komunitas ini dipanggil menjadi persekutuan yang hidup, peka, dan solutif dalam membantu sesama umat yang memikul beban kehidupan.

Pesan ini ditegaskan Romo Leo Mali saat memimpin Misa Kudus di Kapela Santo Agustinus Bello Paroki St Fransiskus dari Asisi Kolhua Kupang, Minggu (8/1/2026).

Dalam homilinya yang bertolak dari Injil Matius 5:13–16, Romo Leo mengajak umat untuk menyadari identitas dasar sebagai murid Kristus.

“Yesus berkata, Kamu adalah garam dunia… kamu adalah terang dunia. Ia tidak mengatakan kamu harus menjadi, melainkan kamu adalah. Ini bukan sekadar perintah moral, tetapi penegasan jati diri,” ungkapnya di hadapan umat Stasi Bello.

Menurut Romo Leo, garam dan terang adalah simbol kehadiran yang memberi makna tanpa harus menonjolkan diri. Sebab Garam tidak pernah menjadi pusat perhatian, namun tanpanya, rasa makanan menjadi hambar. Sedikit saja garam yang tepat mampu mengubah keseluruhan masakan, tetapi bila berlebihan justru merusak.

“Begitulah seharusnya kehadiran orang beriman: memberi dampak, bukan mendominasi,” katanya.

Dosen Seminari Tinggi Santo Mikael Penfui Kupang itu menekankan, iman Kristen sejati selalu berbuah dalam kepedulian konkret.

Komunitas Basis Gerejawi, lanjutnya, harus menjadi ruang perjumpaan yang melahirkan empati dan solidaritas sosial, terutama bagi umat yang lemah dan berkekurangan.

“Komunitas Basis Gerejawi bukan sekadar tempat doa rutin, tetapi persekutuan yang dinamis dan kreatif, yang mampu membaca realitas kehidupan umat dan hadir sebagai penopang bagi mereka yang memikul beban berat,” tegas Romo Leo.

Ia mengingatkan, terang tidak pernah memamerkan dirinya, tetapi dengan sendirinya mengusir kegelapan.
Demikian pula umat Katolik dipanggil untuk menjadi saksi iman melalui tindakan sederhana namun bermakna: hadir, mendengar, dan berbagi.

Melalui perayaan Ekaristi tersebut, Romo Leo berharap KUB atau KBG di Stasi Bello terus bertumbuh sebagai komunitas yang hidup, berakar dalam iman, dan nyata dalam pelayanan kasih.

“Hendaknya kamu menjadi terang dan garam bagi sesama,” tutupnya, sambil berharap menggemakan kembali pesan Yesus yang relevan sepanjang zaman. (goe).

  • Bagikan