Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Gotong – Royong, Harapan yang Ditanam Bersama Di Pematang Sawah Bello

Lahan kelompok tani Wanita Kamboja Bello, mulai diolah.

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT –— Di bawah langit pagi yang masih menyimpan sisa embun, suara mesin traktor memecah keheningan persawahan Bello.

Lumpur basah, kaki telanjang, dan senyum yang tak banyak bicara menjadi penanda: musim tanam kembali dimulai, bukan sekadar menanam padi, tetapi juga menanam harapan dan kebersamaan.

Jumat, 30 Januari 2026, sejumlah petani sawah di RT 006 RW 003, Kelurahan Bello, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, tampak sibuk mempersiapkan lahan.

Sawah-sawah yang semula di tanami jagung, mulai dibelah mata bajak, digarap perlahan menggunakan traktor milik kelompok tani.

Lumpur yang teraduk menjadi saksi kerja kolektif yang lahir dari kesadaran bersama, bukan karena upah, melainkan karena rasa memiliki.
Di salah satu sisi pematang, Ketua Kelompok Tani Wanita (KWT) Kamboja Bello, Yohana Bistolen, tampak duduk tenang. Matanya mengikuti setiap gerak anggota kelompok yang bekerja di sawah. Sesekali ia berdiri, memastikan alur pekerjaan berjalan baik. Tak ada perintah keras, tak ada aba-aba formal, yang ada hanyalah kebiasaan saling memahami peran.

Tak jauh dari sana, di pematang sawah yang telah disiapkan, terlihat anakan padi muda tertata rapi. Hijau segarnya menunggu waktu untuk ditanam, menunggu tangan-tangan petani yang dengan sabar akan memindahkannya satu per satu ke petak-petak sawah yang baru dibajak.

Pemandangan itu menghadirkan irama khas pedesaan: sederhana, namun penuh makna.
Akim Monis Mota (38), salah satu operator traktor, mengaku pekerjaan yang ia lakukan hari itu sepenuhnya bersifat sukarela. Tidak ada bayaran, tidak ada kontrak.

“Sawah ini milik anggota kelompok tani sendiri. Traktor juga milik kelompok. Jadi kami kerja untuk kami punya kepentingan bersama,” ujarnya sambil membersihkan lumpur di kakinya.

Bagi Kelompok Tani Wanita Kamboja Bello, bertani bukan sekadar soal hasil panen. Ia adalah ruang belajar, ruang berbagi, sekaligus ruang membangun kemandirian.

Perempuan-perempuan di Bello tidak hanya hadir sebagai pendamping, tetapi menjadi penggerak, mengatur, mengawasi, dan ikut bekerja di tengah lumpur sawah.

Di tengah tantangan pertanian yang kerap datang silih berganti, cuaca, biaya produksi, hingga keterbatasan sarana, gotong royong menjadi modal utama yang terus dijaga.

Dari pematang Bello, harapan itu ditanam bersama, tumbuh bersama, dan kelak dipanen bersama, dan tentu untuk kesejahteraan petani itu sendiri. (goe).

  • Bagikan