Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Sumur Tua di Naimata Didata, Jejak Strategi Pertahanan Jepang di Kupang

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas P dan K Kota Kupang sekaligus Ketua tim pendata Objek sejarah di Kota Kupang Serli M Tiro dan rombongan saat berada di Sumur Tua Naimata Kamis (29/1/2026).

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Di atas sebidang tanah milik keluarga Sarketu, di RT 02 RW 01 Kelurahan Naimata, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, sebuah sumur tua berdiri dalam diam.

Tak lagi digunakan untuk memenuhi kebutuhan air warga, sumur ini justru menyimpan ingatan lain: jejak pendudukan militer Jepang di Pulau Timor pada masa Perang Dunia II.

Kamis (29/1/2026), tim pendata situs budaya dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang melakukan pendataan terhadap sumur tersebut.

Menurut penuturan para tetua adat setempat, sumur tua itu pernah dimanfaatkan oleh pasukan Jepang ketika membuka dan memperkuat sistem pertahanan di kawasan Naimata pada awal 1940-an.
“Berdasarkan keterangan lisan para leluhur dan keterkaitannya dengan situs-situs di sekitarnya, sumur ini diyakini menjadi salah satu sumber logistik air bagi tentara Jepang,” ujar Aurelius Mangi Uly, anggota tim pendata, di sela kegiatan pendataan.

Keyakinan tersebut diperkuat oleh keberadaan sedikitnya tujuh unit gua dan bunker peninggalan Jepang yang tersebar di lereng Bukit Naimata menuju kampung Petuk Kelurahan Kolhua, tak jauh dari lokasi sumur.

Gua-gua itu merupakan bagian dari jaringan pertahanan yang dibangun secara sistematis oleh tentara Jepang ketika mereka menguasai Kota Kupang dan wilayah sekitarnya pada periode 1942 hingga 1945.

Secara historis, Kupang memiliki posisi strategis dalam peta perang Pasifik. Setelah menduduki Kupang pada Februari 1942, Jepang segera membangun berbagai infrastruktur militer untuk menghadapi serangan Sekutu.

Benteng pertahanan berupa bunker bawah tanah dan gua-gua perlindungan didirikan di sejumlah titik penting, termasuk Liliba, Penfui, dan Naimata.

Di Kelurahan Naimata sendiri, jejak pertahanan Jepang sebelumnya juga ditemukan di area belakang SD Inpres Naimata, berupa bunker yang terkubur sebagian oleh waktu dan aktivitas warga.
Keberadaan sumur tua di tanah keluarga Sarketu melengkapi mozaik sejarah tersebut, menunjukkan pertahanan Jepang tidak hanya mengandalkan struktur militer, tetapi juga sarana pendukung kehidupan sehari-hari pasukan.

Aurelius menegaskan, pendataan ini merupakan langkah awal untuk memastikan situs-situs tersebut tercatat secara resmi sebagai bagian dari warisan sejarah Kota Kupang.

“Situs-situs ini bukan sekadar peninggalan fisik, tetapi juga saksi bisu bagaimana wilayah ini pernah menjadi medan strategis dalam konflik global,” katanya.

Dengan pendataan yang berkelanjutan, pemerintah daerah berharap jejak-jejak sejarah pendudukan Jepang di Kupang dapat terpelihara, diteliti lebih lanjut. Dan dimanfaatkan sebagai sumber edukasi sejarah bagi generasi muda, sekaligus pengingat bahwa tanah Naimata pernah berada di pusaran pergulatan besar dunia. (goe).

  • Bagikan