KUPANG, FLOBAMORA-SPOT – Panitia Pembangunan Kapela Santo Paulus Bello terus membangun komunikasi yang intens dan terbuka dengan umat basis guna memastikan kelanjutan pembangunan rumah ibadah tersebut berjalan dalam semangat kebersamaan dan keikhlasan.
Sebagai bagian dari upaya
, Ketua Panitia Pembangunan bersama Pastor Paroki melakukan kunjungan pastoral ke Kelompok Umat Basis (KUB) Maria Ratu Damai, Rabu (21/1/2026) malam.
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana penuh kekeluargaan itu diawali dengan Perayaan Ekaristi, sebelum dilanjutkan dengan dialog bersama umat.
Ketua Panitia Pembangunan Kapela Santo Paulus Bello, Marsel Tika, menjelaskan, hingga saat ini panitia masih mengandalkan skema pinjaman dari lembaga jasa keuangan untuk membiayai kelanjutan pembangunan, khususnya penyelesaian atap kapela.
Menurutnya, berdasarkan hasil perhitungan teknis, pembangunan atap baja berat membutuhkan anggaran lebih dari Rp800 juta dan tidak dapat dikerjakan secara bertahap.
“Pekerjaan atap harus dikerjakan sekaligus, sehingga membutuhkan dana besar dalam waktu yang relatif singkat. Karena itu, panitia memerlukan kepastian dukungan dari umat agar cicilan pinjaman dapat berjalan dengan baik,” ujar Marsel.
Ia menegaskan, yang dibutuhkan panitia bukanlah besarnya sumbangan, melainkan kejelasan dan konsistensi kesanggupan umat.
“Panitia perlu mengetahui kemampuan riil setiap KUB. Dengan begitu, kami bisa menyusun perencanaan keuangan secara terukur dan bertanggung jawab,” jelasnya.
Marsel mengungkapkan, panitia menargetkan jangka waktu pinjaman selama tiga tahun, dengan total bunga yang diperkirakan mencapai sekitar Rp21 juta.
Seluruh perhitungan dilakukan secara bulanan agar mudah dievaluasi bersama.
Sementara itu, Ketua KUB Maria Ratu Damai, Wilibrodus, menegaskan, umat pada prinsipnya mendukung penuh pembangunan Kapela Santo Paulus Bello. Namun, bentuk dukungan tersebut disesuaikan dengan kondisi ekonomi umat yang tidak selalu stabil.
“Dalam pertemuan umat sebelumnya memang pernah dibicarakan kontribusi sekitar Rp600 ribu per bulan. Namun itu tidak bersifat mengikat dan tidak selalu bisa diberikan secara rutin karena kondisi ekonomi umat yang naik turun,” katanya.
Ia menekankan, seluruh bentuk kontribusi umat bersifat sukarela, tanpa paksaan, dan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
“Yang terpenting adalah semangat kebersamaan dan keikhlasan. Jumlahnya bisa saja kecil, tergantung kemampuan umat pada waktu tertentu,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Pastor Paroki St Fransiskus dari Asisi Kolhua Romo Dus Bone memberikan peneguhan rohani kepada umat agar tetap berkontribusi dengan hati yang tulus dan penuh kesadaran iman.
“Tidak perlu menunggu harus berlebih-lebihan. Kalau niat sudah ada, semuanya akan berjalan dengan baik. Jangan merendahkan atau bahkan menghalangi umat yang ingin memberi,” tegas Romo Dus.
Ia mengingatkan bahwa setiap bentuk kebaikan yang dilakukan dengan tulus merupakan persembahan kepada Tuhan.
“Jangan kita saling menghalangi dalam berbuat baik. Berikanlah dengan hati yang ikhlas untuk Tuhan, maka berkat-Nya akan selalu menyertai,” pungkasnya. (goe).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




