KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Deru kompresor angin, bau karet terbakar, dan debu jalanan menjadi saksi bisu perjuangan hidup Jonianus Rusmin Fallo.
Di sebuah bengkel tambal ban sederhana di Kelurahan Kolhua, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, lelaki yang akrab disapa Rusmin itu menenun harapan bagi masa depan keluarganya, satu ban bocor demi satu.
Rusmin lahir di Kefamenanu, 7 Juli 1981. Delapan tahun silam, ia memilih merantau dan menetap di Kolhua RT/RW 023/007.
Tanpa latar belakang pendidikan tinggi dan dengan modal seadanya, Rusmin menapaki hidup dengan satu keyakinan: kerja jujur tak pernah mengkhianati hasil.
Setiap hari, dari pagi hingga senja, ia setia menunggu pelanggan, para pengendara motor yang nasibnya sedang kurang baik di jalan.
Di bawah terik matahari dan guyuran hujan yang datang tiba-tiba, Rusmin tetap ramah, murah senyum, dan tak pernah mendahului mengeluh.
“Kalau orang sudah susah di jalan, kita harus bantu cepat,” katanya Rabu pagi (7/1/2026), sambil tangan cekatan menambal ban bocor.
Baginya, kecepatan kerja dan kejujuran adalah modal utama menjaga kepercayaan.
Bersama sang istri, Susana Suni, Rusmin membesarkan empat orang anak dari penghasilan yang jauh dari kata pasti.
Kadang bengkel ramai, sering pula sepi. Namun di balik ketidakpastian itu, ada satu tujuan besar yang selalu ia jaga: pendidikan anak-anak.
“Biar saya kerja begini, anak-anak jangan berhenti sekolah. Mereka harus lebih baik dari orang tuanya,” ucap Rusmin lirih, namun penuh keyakinan.
Anak pertamanya, Maria Aprista Fallo, kini menempuh pendidikan di Akademi Pariwisata (AKPAR) Kupang semester lima.
Anak kedua, Fransiska Fallo, kerap membantu sang ayah di bengkel tambal ban. Anak ketiga masih bersekolah di SMK AKPAR Kupang jurusan pariwisata. dan anak ke empat juga masih SD.
Capaian yang membanggakan.
Bagi Rusmin, capaian itu adalah kebanggaan terbesar dalam hidupnya.
Usaha tambal ban yang digeluti Rusmin baru berjalan sekitar satu tahun. Banyak cerita sedih, jatuh bangun, dan rasa lelah yang tak pernah ia ceritakan.
Ia menjalankan usahanya di atas lahan milik Lopo Indah tanpa dipungut biaya, demi sekadar memenuhi kebutuhan keluarga.
Ia mengenang masa awal memulai usaha. Rusmin menyewa kompresor milik orang lain dengan biaya Rp600 ribu per bulan. Empat bulan berjalan, ia merasa tak sanggup lagi membayar sewa.
“Waktu itu saya pikir, kalau terus sewa, saya tidak akan maju,” tuturnya.
Dengan keberanian dan keyakinan, Rusmin meminjam dana dari koperasi Bonafaktur Paroki Santo Fransiskus Asisi Kolhua. Dari pinjaman itulah ia membeli kompresor sendiri dan mulai berdiri mandiri hingga hari ini.
Dari bengkel kecil berlantai tanah dan berdinding seng, Rusmin membuktikan, keterbatasan bukan alasan untuk menyerah.
Apa yang ia capai bukan hasil keberuntungan, melainkan buah dari ketekunan, disiplin, dan pengorbanan yang dijalani tanpa banyak keluhan.
Kisah Rusmin adalah potret nyata kehidupan masyarakat kecil Kota Kupang, dimana kemuliaan hidup tidak diukur dari jenis pekerjaan, melainkan dari tanggung jawab dan ketulusan dalam menjalaninya.
Profesi tambal ban yang kerap dipandang sederhana justru menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih baik.
Di sudut Kolhua, di antara lalu lalang kendaraan dan debu jalanan, Rusmin terus bekerja. Bukan untuk dikenal banyak orang, tetapi demi satu keyakinan sederhana: selama mau bekerja jujur, masa depan anak-anak selalu layak diperjuangkan. (Goe).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




