KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Suasana Natal di Kota Kupang tak hanya diwarnai dengan ibadah dan tradisi saling berkunjung antar keluarga, tetapi juga dengan hidupnya kembali permainan rakyat gasing kayu khas Timor.
Sejumlah warga, terutama kalangan pemuda, tampak antusias memainkan gasing kayu di Kelurahan Penkase Oeleta, Kecamatan Alak, Sabtu (3/1/2026).
Di halaman rumah Roki Baitanu warga RT 03/RW 01, bunyi kayu yang beradu dan sorak kecil para pemain memecah keheningan sore.
Gasing-gasing kayu berputar di atas tanah, dimainkan di sela-sela kunjungan Natal, menghadirkan suasana kebersamaan yang sederhana namun penuh keakraban.
Permainan tersebut menggunakan gasing kayu hasil kerajinan tangan warga setempat, Antonius Baitanu. Dengan bahan kayu pilihan dan teknik pembuatan tradisional, gasing-gasing itu dibuat secara manual, mengikuti pola yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Semua gasing ini kami buat sendiri. Tujuannya bukan hanya untuk bermain, tapi supaya anak-anak dan orang muda tahu permainan yang dulu kami mainkan,” ujar Antonius.
Pengalaman berbeda.
Bagi para pemuda, permainan gasing kayu memberi pengalaman yang berbeda.
Fendi Kofemuke mengatakan, permainan tradisional ini menjadi sarana untuk membangun kebersamaan yang kini mulai jarang ditemui.
“Lewat permainan ini kami bisa berkumpul, saling menunggu giliran, dan saling menyemangati. Tidak seperti main di handphone yang masing-masing sendiri,” kata Fendi.
Hal senada disampaikan Desron Moka. Menurutnya, permainan gasing kayu juga menjadi cara untuk menghidupkan kembali tradisi yang mulai dilupakan generasi muda.
“Kalau tidak dimainkan lagi, lama-lama anak-anak tidak akan tahu permainan ini,” ujarnya.
Ketua KPOTI beri apresiasi.
Terpisah, Ketua Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) Kota Kupang, Goris Takene, mengapresiasi inisiatif warga yang kembali menghidupkan permainan tradisional di tengah masyarakat.
“Permainan rakyat seperti gasing kayu bukan sekadar hiburan, tetapi warisan budaya yang membentuk nilai kebersamaan, sportivitas, dan solidaritas,” kata Goris.
Ia menegaskan, KPOTI terus mendorong pelestarian permainan tradisional sebagai penyeimbang di tengah derasnya pengaruh teknologi digital yang kian menggerus ruang bermain bersama, khususnya bagi anak-anak.
“Gasing yang berputar hari ini bukan hanya permainan, tetapi juga simbol hidupnya kembali nilai-nilai kebersamaan dalam masyarakat,” ujarnya.
Di tengah arus perubahan zaman, halaman rumah warga di Penkase Oeleta menjadi saksi bahwa tradisi masih memiliki ruang untuk tumbuh dan hidup, berputar pelan namun pasti, seperti gasing kayu Timor yang kembali dimainkan di tanahnya sendiri. (g/sintus).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




