KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Nama Goris Takene, atau lengkapnya Gregorius Takene, SE, mungkin tidak selalu terdengar di ruang publik.
Dalam kesehariannya, ia dikenal sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mengabdi di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang.
Namun di balik peran yang tampak sederhana itu, tersimpan komitmen besar untuk menjaga, merawat, dan memajukan warisan budaya lokal di tengah arus modernisasi.
Di penghujung tahun 2025, Goris Takene berhasil menorehkan sejarah baru bagi Kota Kupang dengan menyelenggarakan Iven Perlombaan Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional.
Kegiatan ini melibatkan ratusan siswa-siswi tingkat SD dan SMP se-Kota Kupang. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 5–6 Desember 2025, di pelataran Gereja Katolik Santo Fransiskus Asisi Kolhua, ini mempertandingkan sejumlah permainan tradisional khas daerah seperti Sikidoka, Galasing, dan Talimerdeka.
Keberhasilan penyelenggaraan kegiatan tersebut tidak terlepas dari kecermatan Goris Takene dalam memanfaatkan Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK). Yakni program bantuan pemerintah dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang dijalankan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI Nusa Tenggara Timur.
Program ini menjadi jembatan penting yang mengubah gagasan pelestarian budaya menjadi aksi nyata di lingkungan pendidikan.
Sebagai Ketua Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) Kota Kupang, Goris Takene tidak hanya menunjukkan kapasitas kepemimpinan, tetapi juga keteladanan dalam menggerakkan kembali nilai-nilai budaya lokal sebagai sarana pembentukan karakter generasi muda.
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Kupang, yang ditandai dengan kehadiran dan dukungan Sekretaris Daerah Kota Kupang Jefri Pelt. Jefri secara resmi membuka kegiatan pada 5 Desember 2025 di Aula Gereja Katolik Santo Fransiskus Asisi Kolhua.
Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Ernest Ludji, mengaku bangga dengan upaya memopulerkan kembali permainan tradisional di kalangan anak-anak sekolah.
Menurut dia, permainan rakyat memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik.
“Kami sangat bangga dan mengapresiasi kegiatan ini. Permainan tradisional bukan sekadar hiburan, tetapi sarana pendidikan karakter. Di dalamnya ada nilai kejujuran, sportivitas, kerja sama, disiplin, dan rasa cinta terhadap budaya sendiri. Ini sangat relevan untuk membentuk karakter anak-anak sekolah di Kota Kupang,” ujar Ernest Ludji.
Hal senada disampaikan Johnny Eduard Rihi, salah satu pihak yang terlibat dan mendukung penuh kegiatan tersebut.
Ia menyatakan kebanggaannya atas kolaborasi dan dukungan lintas pihak yang membuat iven ini dapat terselenggara dengan baik.
“Kami bangga karena kegiatan perlombaan permainan rakyat ini mendapat dukungan dari semua pihak, baik pemerintah, sekolah, gereja, maupun masyarakat. Ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama. Ketika semua pihak bergerak, hasilnya bisa sangat luar biasa seperti yang kita saksikan hari ini,” ungkap Johnny Eduard Rihi.
Keberhasilan Gregorius Takene ini menjadi bukti nyata bahwa dedikasi, ketulusan, dan keberanian mengambil inisiatif mampu melahirkan perubahan positif.
Ia tidak hanya menghidupkan kembali permainan rakyat yang nyaris terlupakan, tetapi juga menanamkan kebanggaan budaya dan nilai-nilai karakter kepada generasi muda Kota Kupang, sebuah capaian yang patut diapresiasi dan dijadikan inspirasi bagi banyak pihak. (g).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




