KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Kepala Desa Tunfeu, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang, Martinus Leonar Leli, menyampaikan dukungan penuh terhadap langkah Jaringan Relawan untuk Kemanusiaan (JRUK). LSM itu bersama Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) dalam memberikan edukasi migrasi aman bagi warga.
Pernyataan tersebut disampaikan pada kegiatan sosialisasi migrasi aman yang berlangsung di Aula Stasi Santa Maria Fatima Noelsinas, Desa Tunfeu, Rabu (10/12/2025).
Martinus menilai, masyarakat Tunfeu selama ini sangat membutuhkan akses informasi yang benar terkait prosedur bekerja ke luar negeri. Karena itu, ia menganggap kegiatan ini sangat relevan dan bermanfaat.
“Secara pribadi dan sebagai pemerintah desa, kami sangat mendukung apa yang dilakukan JRUK bersama Kementerian P2MI. Warga kami perlu informasi yang positif dan benar agar tidak salah langkah ketika ingin bekerja ke luar negeri,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa Desa Tunfeu telah menyiapkan rancangan Peraturan Desa (Perdes) tentang tata aturan bekerja ke luar negeri. Saat ini rancangan tersebut sedang dikonsultasikan ke Biro Hukum Pemerintah Provinsi NTT.
“Kami sudah punya rancangan Perdes tentang tata aturan bekerja ke luar negeri. Sekarang sedang kami konsultasikan, harapan kami segera berproses sehingga bisa kami launching dalam waktu dekat,” tutur Martinus.
Selain itu, ia menegaskan pentingnya warga mengikuti jalur resmi saat mencari pekerjaan ke luar negeri.
“Kami terus mengingatkan warga: kalau mau bekerja ke luar negeri, gunakan cara-cara resmi. Supaya hak, kewajiban, dan perlindungan hukumnya jelas.” tambah Leli.
Martinus juga meminta agar perusahaan perekrut yang masuk ke wilayah desa memiliki legalitas yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.
Aktivis JRUK: Migrasi Aman Berawal dari Informasi yang Benar.
Aktivis JRUK, Romo Leo Mali, menekankan, tantangan terbesar dalam upaya migrasi aman adalah kurangnya informasi yang benar dan mudah dijangkau masyarakat desa.
“Kami sering bertemu anak muda dan orang tua yang bingung menghadapi tekanan ekonomi. Mereka ingin bekerja, tapi tidak tahu di mana mencari informasi yang tepat. Karena itu kami hadir untuk memastikan mereka mendapatkan penjelasan yang benar,” ujar Romo Leo.
Ia menambahkan bahwa migrasi aman bukan hanya soal dokumen, tapi juga tentang kesiapan mental dan pemahaman risiko.
“Ini bagian dari iman dan tanggung jawab sosial. Kita ikut memikirkan mereka yang setiap hari bertanya: mau kerja di mana, bagaimana caranya, dan apakah aman. Itu sebabnya informasi harus dibuka seluas-luasnya.” tambah Romo Leo.
Ketua Komisi JRUK, Herman Seran, mengapresiasi langkah Desa Tunfeu yang sudah menyiapkan Perdes terkait migrasi aman. Menurutnya, upaya tersebut akan memperkuat perlindungan bagi calon pekerja migran di tingkat akar rumput.
“Desa Tunfeu menunjukkan inisiatif yang luar biasa. Dengan adanya Perdes, masyarakat punya pedoman jelas dan pemerintah desa punya dasar kuat untuk mengatur serta melindungi warganya,” kata Herman.
Ia juga menegaskan bahwa JRUK akan terus bekerja bersama pemerintah dan gereja untuk memastikan edukasi migrasi aman menjangkau desa-desa yang rentan.
“Kami di JRUK sudah lama terlibat dalam pendampingan para pekerja migran. Kerja ini bukan baru hari ini. Karena itu, kolaborasi seperti ini harus terus diperkuat agar masyarakat tidak mudah tertipu oleh perekrutan ilegal,” ujarnya.
Kegiatan sosialisasi ini diharapkan dapat menjadi langkah penting dalam menekan praktik migrasi non-prosedural sekaligus meningkatkan kesiapan dan perlindungan bagi para calon pekerja migran dari Desa Tunfeu dan wilayah sekitar. (goe).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




