Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Saksikan Hentakan Kaki Penari Padoa, Sekda Kota Bilang, Tradisi Adalah Ruang Pulang Identitas

Peserta Festival budaya kelurahan Bello etnis Sabu Raijua membawakan tarian padoa.

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Hentakan kaki para penari Padoa menggema di Lapangan Nunhala, Kelurahan Bello, Minggu (9/11/2025) sore hingga malam.

Irama yang teratur dan pekikan penuh semangat itu tak sekadar menandai pertunjukan seni, tetapi menjadi panggilan pulang pada akar budaya yang telah lama hidup dalam ingatan warga.

Gelaran tersebut berlangsung dalam rangka Festival Budaya tingkat Kelurahan Bello, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang.

Padoa, tarian khas Sabu Raijua, sore itu menghadirkan suasana hangat dan menyatukan warga tanpa sekat usia maupun latar belakang.

Ratusan warga tampak memenuhi sisi lapangan, sebagian larut dalam irama padoa. Padoa bukan sekadar tontonan, tetapi perjumpaan sosial yang meneguhkan rasa satu kampung.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Kupang, Jefri Pelt, yang membuka kegiatan itu, menegaskan pentingnya merawat tradisi sebagai pondasi identitas.

“Kita boleh berkembang dan maju dalam pembangunan, tetapi tidak boleh meninggalkan akar budaya. Tradisi adalah ruang pulang identitas. Ia mengingatkan kita pada asal, leluhur, dan kebersamaan,” kata Jefri.

Ia menambahkan, pemerintah kota akan terus mendukung kegiatan kebudayaan di tingkat kelurahan. Menurutnya, ruang budaya adalah tempat hidupnya nilai solidaritas serta pendidikan karakter yang paling dekat dengan keseharian masyarakat.
“Di sini bukan hanya orang menari, tetapi mereka belajar hidup bersama,” ujarnya.

Bagi warga Bello, Padoa bukan hanya seni gerak. Yanus Riwu, warga RT 006/RW 003, menyebut Padoa sejak dulu menjadi ruang pembentukan kekompakan dan persaudaraan.

“Geraknya harus bersama. Tidak bisa sendiri. Itu simbol bahwa hidup dijalani dengan saling menopang,” kata Yanus.

Selain itu, kata dia, pentas budaya juga menjadi ruang rekreasi warga setelah lelah bekerja.

“Kita bisa tertawa dan berbagi waktu tanpa beban,” ucapnya.
Yanus juga mengenang fungsi sosial Padoa pada masa lalu. “Dulu, anak muda bisa saling kenal lewat tarian. Dari situ bisa berlanjut sampai berjodoh,” katanya, disambut tawa hadirin.
Hal senada disampaikan Ketua RW 002 Kelurahan Bello, Jeri Tuan.

Menurutnya, Padoa adalah penanda kedekatan masyarakat dengan kampung halaman, baik bagi warga asli Sabu maupun mereka yang hidup berdampingan.

“Setiap langkah dan iramanya membawa kita kembali pada rasa rumah. Padoa mengikat orang dalam rasa keluarga,” katanya.

Ia menegaskan pentingnya festival ini sebagai ruang pendidikan kultural bagi anak dan remaja.

“Di tengah gempuran teknologi dan perubahan gaya hidup, warisan ini harus terus dikenalkan agar generasi baru tahu bahwa mereka punya akar,” ujarnya.

Sore hingga malam itu, Lapangan Nunhala berubah menjadi ruang merayakan identitas. Tidak ada yang lebih utama atau lebih pinggir. Semua hadir sebagai bagian dari cerita yang sama: bahwa budaya bukan sekadar peninggalan, melainkan detak yang menjaga masyarakat tetap menyatu.

Padoa bukan hanya rangkaian gerak. Ia adalah bahasa yang menyatukan orang dalam satu irama kehidupan. (goe).

  • Bagikan