Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Gasing Kayu, Permainan Tradisional Yang Disulap Jadi Produk Ekonomi dan Edukasi Budaya

Dua anak pencinta permainan tradisional gasing kayu.

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Di tengah arus digitalisasi yang kian deras, sekelompok warga di Kelurahan Bello, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, menemukan peluang ekonomi dari warisan budaya yang nyaris terlupakan: gasing kayu.

Awalnya hanya upaya melestarikan permainan tradisional, kini kegiatan memutar gasing itu mulai berkembang menjadi aktivitas ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Warga membuat dan menjual gasing kayu buatan tangan kepada wisatawan dan sekolah-sekolah sebagai media edukasi budaya.

“Kayu keras lokal seperti kayu asam, jambu biji hutan atau mahoni kini kami manfaatkan untuk membuat gasing. Hasilnya dijual mulai dari Rp25.000 hingga Rp50.000 per buah, tergantung ukuran dan ukiran,” ujar Goris Takene, Ketua RW 003 sekaligus penggerak Komite Permainan Tradisional Indonesia (KPOTI) di Kelurahan Bello, Selasa (4/11).

Menurut Goris, produksi gasing kayu memberi nilai tambah bagi masyarakat karena memanfaatkan bahan alam sekitar tanpa teknologi rumit, namun tetap bernilai ekonomi.

“Kami ingin agar permainan tradisional ini tak hanya hidup di lapangan, tetapi juga memberi manfaat ekonomi bagi warga pembuatnya,” ujarnya.

Tokoh masyarakat Bello, Andreas Tuan (66), menyebut inisiatif ini sebagai bentuk kebangkitan ekonomi kecil berbasis budaya.

“Dulu gasing hanya hiburan anak-anak. Sekarang bisa jadi sumber pendapatan tambahan. Ini contoh bagaimana budaya lokal bisa jadi ekonomi kreatif,” katanya.

Selain dijual sebagai suvenir, gasing kayu juga mulai dilirik sekolah-sekolah dan komunitas edukasi di Kupang sebagai alat pembelajaran nilai-nilai karakter, seperti sportivitas, ketekunan, dan kerja sama.

Ketua KPOTI NTT Sandro Wanga menilai kebangkitan permainan rakyat seperti gasing kayu membuka peluang bagi pengembangan industri kreatif berbasis budaya lokal, terutama di daerah-daerah yang kaya tradisi.

“Setiap permainan tradisional menyimpan potensi ekonomi. Bila dikelola dengan baik, bisa menjadi bagian dari sektor ekonomi kreatif nasional,” ujarnya.

Sementara itu, Anggota DPRD NTT, David Boymau (Partai Hanura), mendorong agar pemerintah daerah memberi perhatian lebih dalam bentuk pelatihan, promosi, dan fasilitasi usaha mikro yang mengangkat warisan budaya.

“Gasing kayu ini bisa menjadi ikon ekonomi kreatif Kupang. Dukungan kebijakan dan anggaran akan membuat potensi ini berkembang,” katanya.

Kini, dari halaman-halaman kecil di Bello, gema gasing kayu kembali berputar bukan hanya sebagai permainan, tetapi juga simbol perputaran ekonomi warga. Di tangan kreatif masyarakat, tradisi lama menemukan napas baru sebagai sumber penghidupan. (goe).

  • Bagikan