KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Di tengah naiknya tekanan ekonomi rumah tangga akibat harga kebutuhan pokok yang terus berfluktuasi, Komunitas Umat Basis (KUB) Santa Maria Angela, Stasi Santo Agustinus Bello Paroki Santo Fransiskus Asissi Kolhua Kupang, menunjukkan cara berbeda membangun ketahanan sosial ekonomi umat.
Melalui Aksi Peduli Kasih yang digelar Kamis (30/10/2025), umat mempraktikkan ekonomi solidaritas berbasis iman, dengan berbagi hasil doa dan kerja nyata kepada sesama.
Kegiatan ini merupakan bagian dari penutupan rangkaian doa Rosario selama bulan Oktober.
Selain Misa Syukur yang dipimpin oleh Pater Agustinus do Rego, CMF, umat juga menyerahkan hasil pengumpulan bahan pangan dan perlengkapan rohani kepada keluarga dan anak-anak yang membutuhkan.
Dari Aksi Rosario, terkumpul 15 zak beras ukuran 5 kilogram, terdiri atas lima zak hasil sumbangan umat sendiri dan sepuluh zak dari para donatur.
Sementara dari Aksi Katekese, 25 anak menerima hadiah rosario sebagai penghargaan atas ketekunan mereka mengikuti doa setiap malam selama Bulan Rosario.
Ketua KUB Sta. Maria Angela, Franz Maksi, menilai kegiatan ini sebagai bentuk konkret ekonomi berbasis solidaritas.
“Beras atau rosario yang kita bagikan bukan sekadar bantuan sosial. Ini simbol perputaran kasih dan kepekaan ekonomi di tingkat akar rumput. Dari kekurangan yang dibagi, tumbuh rasa cukup bersama,” ujarnya.
Menurut Franz, KUB tidak hanya berperan sebagai wadah pembinaan iman, tetapi juga sebagai unit sosial-ekonomi yang mampu menumbuhkan nilai gotong royong dan kemandirian umat.
“Iman yang hidup harus melahirkan solidaritas ekonomi. Saat kita saling menanggung, tekanan hidup menjadi lebih ringan,” tambahnya.
Dalam renungannya, Pater Agustinus do Rego, CMF, mengapresiasi inisiatif umat yang berhasil memadukan doa dan kepedulian sosial secara nyata.
“Saya menyebutnya ekonomi kasih, karena di sini iman bekerja seperti modal sosial yang menggerakkan partisipasi dan empati. KUB kecil ini menunjukkan semangat besar dalam membangun ketahanan sosial dari bawah,” ujarnya.
Aksi sederhana namun bermakna ini mencerminkan praktik ekonomi solidaritas umat yang mulai tumbuh di banyak wilayah NTT, yakni sistem ekonomi yang berakar pada nilai spiritual, partisipasi, dan saling berbagi.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa kebangkitan ekonomi masyarakat bukan hanya ditopang oleh modal dan pasar. Tetapi juga oleh nilai-nilai sosial seperti kepedulian, iman, dan kebersamaan yang menumbuhkan daya tahan komunitas. (goe).
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.




