Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Pastor Longginus Bone: Sikapi SE Wali Kota Tentang Pembatasan Musik Malam, Dengan Bijak

Moderator OMK Keuskupan Agung Kupang RD. Dus Bone.

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Pastor Kepala Paroki Santo Fransiskus dari Assisi Kolhua, RD Longginus Dus Bone, mengajak masyarakat untuk menyikapi surat edaran Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, tentang pembatasan musik malam dengan bijak dan penuh pengertian.

Kebijakan yang diterbitkan pemerintah kota tersebut menuai beragam tanggapan dari warga. Ada yang menilainya sebagai bentuk pembatasan kebebasan, namun tak sedikit pula yang melihat nilai positifnya bagi ketertiban, kesehatan, dan kenyamanan bersama.

“Sebagai pribadi beriman, saya mengajak kita semua untuk melihat sisi baik dari kebijakan ini,” kata Pastor Longginus Bone di Kupang, Senin (6/10/2025).

“Firman Tuhan mengingatkan kita, ‘Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka’ (Matius 7:12). Hidup bersama menuntut kita saling menghargai”, tambah Moderator Orang Muda Katolik (OMK) Keuskupan Agung Kupang ini.

Romo Dus menilai, kebebasan individu tidak boleh mengganggu ketenangan lingkungan sekitar. Terutama bagi anak-anak yang membutuhkan waktu istirahat. Orang sakit yang butuh ketenangan, serta generasi muda yang sedang belajar.

Ia menyebut, imbauan Wali Kota untuk mengatur volume musik pada malam hari merupakan langkah bijak menjaga keseimbangan antara hiburan dan ketertiban umum.

Mengutip pesan Kitab Suci dari 1 Korintus 10:23, Pastor Longginus mengingatkan, tidak semua yang diperbolehkan itu berguna.

“Musik dan hiburan itu baik, tetapi jika berlebihan hingga menimbulkan gangguan, nilai kebaikannya hilang. Dengan pengaturan yang bijak, hiburan tetap dapat dinikmati tanpa mengorbankan kepentingan bersama,” ujarnya.

Ia menegaskan, kebijakan pemerintah bukan dimaksudkan untuk membatasi sukacita masyarakat, melainkan untuk menjaga ketenteraman bersama.

“Kota yang nyaman adalah kota yang jauh dari kebisingan. Dengan suasana yang tenang, setiap orang dapat bekerja dan beristirahat dengan hati serta pikiran yang damai,” katanya.

Kepada kaum muda Katolik, Pastor Dus Bone berpesan agar menjadi teladan yang menebarkan kedamaian.

“Kebebasan sejati bukanlah ketika kita bisa melakukan apa saja, melainkan ketika kita mampu menahan diri demi kebaikan bersama. Pesta yang bermartabat tidak ditentukan oleh kerasnya musik, tetapi oleh kehangatan dan kebersamaan yang tulus,” ujarnya.

Ia menutup dengan ajakan penuh refleksi. “Biarlah malam yang tenang menjadi kanvas bagi doa, refleksi, dan mimpi-mimpi indah kita. Dalam keheningan, suara Tuhan terdengar lebih jelas, menuntun langkah kita menuju masa depan yang penuh harapan. Tuhan memberkati kita semua warga Kota Kupang”, pungkas dia. (goe).

  • Bagikan