Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Dua Goris Kupang Dorong Transformasi Petani Milenial

Dua Goris sedang bicara transformasi pengembangan outlet penjualan hasil pertanian berbasis digital.

KUPANG, FLOBAMORA-SPOT — Transformasi pertanian tradisional menuju pertanian modern berbasis digital menjadi sorotan dalam diskusi ringan dua tokoh lokal di Kelurahan Bello, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Gagasan itu mengemuka dari dua sosok yang kebetulan memiliki nama depan sama Goris.

Adalah Goris Batafor, dosen Politeknik Pertanian Negeri Kupang, dan Goris Takene, Aparatur Sipil Negara di Pemkot Kupang yang juga sering memanfaatkan waktu luang sebagai pelaku pertanian rumah tangga.

Dalam pertemuan yang berlangsung Rabu (24/7), keduanya menyoroti pentingnya adopsi teknologi digital dalam aktivitas pertanian sebagai jawaban atas tantangan zaman.

“Petani kita perlu mulai terbiasa dengan pendekatan teknologi—entah itu melalui aplikasi prakiraan cuaca, pupuk organik yang terukur, hingga pemasaran produk secara digital. Ini bukan hanya soal tren, tapi kebutuhan agar hasil panen lebih maksimal dan pasar makin luas,” kata Goris Batafor.

Sementara itu, Goris Takene Ketua RW 003 Kelurahan Bello yang juga aktif menjual hasil kebun di depan rumahnya, mengaku telah memanfaatkan platform digital sederhana untuk memperluas pasar.

“Biasanya saya manfaatkan waktu luang untuk buka lapak di rumah. Kadang tawarkan lewat grup WhatsApp atau jaringan kerja. Lumayan, selain ada tambahan penghasilan, produk-produk lokal kita makin dikenal,” ujarnya.

Diskusi keduanya menghasilkan sebuah kesepahaman: petani tradisional harus mulai didorong untuk menjadi petani milenial, yang tidak hanya mengandalkan pola lama, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing.

Menurut mereka, dibutuhkan program pelatihan yang konkret, menyentuh kebutuhan petani, dan berkelanjutan, agar proses transformasi ini bisa berjalan efektif.
“Kita butuh pendekatan yang membumi—pelatihan digital, pendampingan usaha, sampai penguatan komunitas tani yang berbasis teknologi. Ini penting demi ketahanan pangan dan masa depan pertanian lokal yang tangguh,” tegas Goris Batafor.
Mereka juga berharap agar Dinas Pertanian Kota Kupang terus hadir melalui program-program pelatihan, penyuluhan, serta dukungan nyata bagi para petani kecil, agar tidak tertinggal di era serba digital ini. (goe).

  • Bagikan